Keberkahan Taubat

Taubat merupakan sebuah hal yang hendaknya selalu dilakukan oleh setiap umat manusia. Artinya bahwa kita harus selalu memohon ampun kepada Allah, menyesali segala kesalahan yang telah dilakukan, serta tidak akan berbuat dosa lagi.

Keberkahan taubat itu akan menghinggapi orang-orang yang melakukan taubat secara sungguh-sungguh (taubatan nasuha), seperti kisah wanita pelacur di bawah ini.

Ada seorang wanita pelacur dari kaum Bani Israil, dia telah membuat banyak laki-laki tergila kepadanya. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja, dan laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur. Setiap orang rela membayar kepadanya agar bisa bersamanya.

Pada suatu hari ada seorang abid lewat di depan pintu rumahnya, dia memandang perempuan itu dan diapun tergoda. Abid itu berdoa kepada Allah agar menghilangkan gejolak jiwanya, tetapi dia tetap tidak bisa menghilangkan gejolak tersebut.

Abid itu menjual kain-kainnya dan apa saja yang ada pada dirinya. Dia telah berhasil mengumpulkan uang yang diperlukan, kemudian dia datang ke rumah pelacur tersebut.

Pelacur itu menyuruh agar dinar yang dibawa si abid diserahkan kepada tetangganya, yang memang ditugasi untuk mengumpulkan uang. Abid tersebut dijanjikan waktu kapan harus datang ke rumah pelacur.

 

Pada waktu yang telah dijanjikan datanglah abid tersebut ke rumah pelacur, kemudian dia masuk ke kamarnya. Setelah abid mengulurkan tangannya kepada wanita itu, Allah memberikan rahmat kepada si abid dengan sebab berkah ibadahnya dan taubatnya yang telah lalu.

Si abid berfikir bahwa Allah sedang melihatnya sedang dalam keadaan maksiat, kemudian dia menjadi takut, kulitnya berubah menjadi pucat. Pelacur itu berkata, “Apa yang menimpamu?” Abid menjawab, “Aku takut kepada Allah, maka ijinkan aku keluar.” Perempuan itu kemudian berkata lagi, “Celaka engkau, banyak sekali laki-laki yang mengharapkan apa yang telah engkau temukan ini. Lalu apa artinya yang engkau lakukan ini?”

Abid itu berkata, “Aku takut kepada Allah, dan uang yang aku serahkan itu adalah halal untukmu (aku relakan). Maka ijinkanlah aku keluar.” Perempuan itu berkata, “Apakah engkau tidak pernah mengerjakan seperti ini?” dia menjawab, “Tidak.”

Perempuan itu berkata, “Dari manakah engkau dan siapakah namamu?” Abid itu memberitahukan pada perempuan itu bahwa dia dari desa Anu dan namanya Fulan. Maka perempuan itu mengijinkannya keluar dari sisinya.

Abid itu keluar dengan menyerukan kata kecelakaan dan kerusakan serta menangisi dirinya. Timbul ketakutan di hati pelacur tersebut disebabkan berkah dari si abid. Berkatalah perempuan itu, “Perbuatan ini adalah dosa pertama yang mau dikerjakan laki-laki ini, tetapi dia telah mengalami ketakutan seperti itu. Sedang aku telah mengerjakan dosa sejak lama. Dan Tuhan yang ditakuti laki-laki ini adalah Tuhanku juga, maka ketakutanku kepada-Nya adalah harus lebih besar daripada laki-laki ini.”

Maka bertaubatlah pelacur itu kepada Allah dan mengunci pintu rumahnya untuk semua orang. Dia memakai pakaian usang dan menghadap kepada Allah, serta dia sangat taat dalam ibadahnya. Berkatalah dia, “Jika aku dapat sampai ke rumah laki-laki itu mungkin dia mau menikahi aku. Aku selalu berada di sisinya dan belajar perihal agama darinya, serta dia membantu aku dalam beribadah kepada Allah.”

Maka bersiaplah dia dan membawa harta dan pelayan yang dikehendakinya. Sampailah dia di desa itu dan bertanya mengenai laki-laki yang dimaksudnya. Abid pun diberitahu mengenai kedatangan seorang perempuan yang mencarinya.

Ketika perempuan itu melihat abid, dibukalah wajahnya agar abid dapat mengenalinya. Tetai ketika abid mengenalnya dan ingat kejadian yang ada di antara dirinya dengan perempuan itu, berteriaklah dia dengan keras dan keluarlah nyawanya saat itu juga.

Tinggallah perempuan itu bersedih dan berkata, “Aku keluar hanya untuk menemuinya, tetapi sekarang dia telah meninggal. Lalu apakah dia masih memiliki keluarga yang memerlukan seorang perempuan?”

Orang-orang yang ditemuinya berkata, “Sesungguhnya dia memiliki seorang saudara laki-laki shalih, hanya saja dia miskin.” Perempuan itu berkata, “Tidak mengapa, karena aku memiliki harta yang cukup.”

Datanglah saudaranya dan menikahinya. Akhirnya mereka dikaruniai 7 orang anak laki-laki dan semuanya menjadi Nabi dalam kalangan Bani Israil disebabkan keberkahan taubat.

 

Sumber: Durrotun Nasihin