Sakaratul Maut Yang Menyakitkan

Setiap manusia pasti akan menemui ajalnya, dan ajal yang menjemput atau caranya ruh di cabut saat sakaratul maut itu tergantung dari siapa orangnya, apakah orang mukmin atau orang kafir.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda:

“Ruh seorang mukmin tidak akan keluar sehingga dia lebih dahulu melihat tempatnya di surga. Dan ruh orang kafir tidak akan keluar sehingga dia lebih dahulu melihat tempatya di neraka.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana caranya orang mukmin dapat melihat tempatnya di surga dan orang kafir melihat tempatnya di neraka?”

Nabi Muhammad menjawab, “Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan Jibril dalam bentuk seindah-indahnya. Dia memiliki enam ratus buah sayap. Diantara sayap-sayap itu ada dua buah sayap hijau seperti sayap seekor burung merak. Apabila dia mengembangkan sayap, maka sayap itu memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Pada sayapnya yang sebelah kanan terlukis gambar surga beserta isinya, baik bidadari, gedung-gedung, tingkatan-tingkatan surga, para pelayan, dan kanak-kanak. Dan pada sayap sebelah kiri terlukis gambar jahanam beserta isinya, baik ular, kalajengking, tingkat-tingkatan neraka, dan malaikat Zabaniyah.

Ketika ajal seorang hamba telah tiba masuklah segolongan malaikat pada urat-uratnya dan menekan ruhnya dan telapak kaki menuju lututnya. Keluarlah golongan malaikat yang pertama itu dan masuklah golongan malaikat yang kedua serta mereka menekan ruh itu dari kedua lututnya menuju pusarnya. Keluarlah golongan kedua dan digantikan golongan ketiga, serta merekapun menekan ruh hamba itu dari perut ke dada. Keluarlah golongan ketiga dan digantikan golongan keempat, mereka menekan ruh hamba itu dari dada ke tenggorokan, seperti firman Allah dalam surat Al Waaqi’ah ayat 83-84, ‘Hendaklah ketika ruh telah mencapai tenggorokan, sedang kamu ketika itu dapat melihat.’

Ketika itu, apabila hamba adalah seorang mukmin maka Jibril membentangkan sayapnya yang sebelah kanan. Lalu hamba itu melihat tempatnya di surga, dia merindukannya dan selalu memandanginya, serta dia tidak memandang yang lain, baik ayahnya, ibunya ataupun anak-anaknya karena merindukan tempat itu.

Tetapi jika hamba itu seorang munafik, maka Jibril membentangkan sayapnya sebelah kiri. Dia melihat tempatnya di surga dan memandangnya serta tidak memandang yang lain, baik ayahnya, ibunya atau anak-anaknya karena takut terhadap tempat itu.

Beruntunglah orang yang kuburnya merupakan sebuah taman dari taman-taman di surga. Dan celakalah orang yang kuburnya adalah merupakan sebuah jurang dari jurang-jurang neraka.

 

Sumber: Durrotun Nasihin