Mengkhianati Amanat Allah SWT

Amanat

Allah berfirman dalam surat Al Ahzaab ayat 72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada semua langit dan bumi serta gunung-gunung, tetapi mereka enggan untuk memikulnya dan khawatir mengenai amanat itu (kalau tidak dapat melaksanakan), an manusia memikulnya. Sesungguhnya dia sangat dzalim dan sangat bodoh.”

Menurut sebagian ulama bahwa yang dimaksuddengan amanat dalamayat di atas adalah tauhid, yaitu kalimat syahadat, kalimat keimanan, kalimat nur dan kalimat takwa.

Sedangkan semua itu disebutkan sebagai amanat adalah sebagai peringatan bahwa semua itu merupakan kewajiban yang harus dipelihara, yang dititipkan Allah pada orang-orang yang mukallaf dan mempercayakannya kepada mereka. Dia mewajibkan mereka untuk menerimanya dengan taat dan tunduk yang baik. Dan Dia memerintahkan mereka untuk memperhatikan dan memeliharanya serta memenuhi hak-haknya tanpa mengurangi sedikitpun.

Abdullah bin Umar berkata, “Kalmat Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasuulullaah adalah 24 huruf, sedang sehari semalam pun adan 24 jam. Maka apabila seorang hamba membaca kalimat ini dengan ikhlas dalam waktu yang singkat, Allah akan berfirman, ‘Aku benar-benar telah mengampunkan dosa-dosamu, baik yang kecil, yang besar, yang samar-samar, yang sengaja dan yang karena lupa berkat kehormatan kalimat-kalimat ini.”

Disebutkan bahwa ketika amanat itu ditawarkan kepada Nabi Adam, dia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya semua langit, bumi, dan gunung-gunung dengan besar dan luasnya tidak sanggup memikulnya dan mereka enggan. Lalu bagaimana aku harus memikulnya dalam keadaanku yang lemah ini?”

Berfirmanlah Allah swt, “Memikul adalah darimu sedang kekuasaan adalah dari-Ku.” Maka Nabi Adam mau memikul amanat itu.

Allah berfirman dalam surat Thaahaa ayat 21, “Ambillah tongkat itu dan jangan takut.”

Dia memperlihatkan tongkat itu pada pandangan Firaun sebagai ular besar, sehingga Firaun dan pengikutnya ketakutan. Tetapi memperlihatkannya ke dalam pandangan Nabi Musa sebagai tongkat kayu, maka dia tidak merasa takut. Demikian pula amanat itu, Allah memperlihatkannya kepada langit dan bumi suatu hal yang berat dan mereka enggan memikulnya serta khawatir tidak mampu memikulnya. Tetapi Dia memperlihatkan amanat itu dalam pandangan manusia sebagai hal yang ringan maka dia memikulnya.

Jika ditanyakan, “Apakah hikmahnya bahwa langit, bumi, dan gunung tidak mau menerima amanat itu padahal mereka besar dalam perihalnya maupun bendanya, sedang manusia memikulnya dengan kelemahannya?”

Maka jawabannya, “Karena langit, bumidan gunung belum pernah merasakan kenikmatan surga, sedangkan manusia telah merasakan kelezatannya. Maka diapun memikul amanat itu agar dapat mencapai kenikmatan itu.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin