Keistimewaan Tawadhu’ dan Larangan Sombong

Tawadhu’ merupakan sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, jadi hendakya kita sebagai umatnya meneladani Nabi saw. Sedangkan sombong merupakan sifat tercela, bahkan setan terjerumus dan durhaka akibat kesombongannya.

Diriwayatkan bahwa Mutharrif bin Abdillah pernah melihat Mahlab membanggakan dirinya dengan jubahnya. Berkatalah dia, “Hai hamba Allah, ini adalah cara berjalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.”

Mahlab berkata, “Apakah engkau tidak mengenal aku?” Mutharrif berkata, “Ya, aku kenal. Permulaanmu adalah setetes air mani yang menjijikkan, sedang akhirmu adalah bangkai yang busuk, sedang di antara keduanya engkau selalu membawa tinja.”

Maka berlalulah Mahlab dan meninggalkan cara berjalannya itu serta bertaubat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Umar bin Khaththab pernah mengirimkan seorang penguasa ke Bahrain, sedang dia naik unta. Maka berkatalah Umar, ‘Berilah jalan. Mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah, budi pekerti mereka adalah tawadhu’, padahal mereka adalah orang-orang paling mulia di antara manusia di sisi makhluk, di sisi malaikat dan di sisi Allah swt.’

Diriwayatkandari Wahb bin Munabbih, dia berkata, “Ada orang dari kaum Bani Isra’il. Dia telah beribadah kepada Allah selama 70 tahun, dia tidak berbuka kecuali dari tahun ke tahun yang lain. kemudian dia memohon kepada Allah sebuah hajat, tetapi Allah tidak memenuhi hajatnya. Berkatalah dia, ‘Seandainya engkau memiliki kedudukan di sisi Allah tentu dia akan memenuhi hajatmu.’ Lalu Allah menurunkan malaikat yang berkata kepadanya, ‘Hai anak cucu Adam, tawadhu’ mu sekarang ini lebih utama daripada ibadahmu selama 70 tahun di sisi Allah.’ maka Allah memenuhi hajatmu karena tawadhu’ mu kepada-Nya.

 

Sumber: Durrotun Nasihin