Pedihnya Sakaratul Maut

Setiap manusia pasti akan mati, dan saat-saat sebelum mati atau ruhnya dicabut dinamakan sakaratul maut. Sakaratul maut itu merupakan peristiwa yang menyakitkan

Allah berfirman dalam surat Maryam ayat 56-57, “Sebutkanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Idris dalam Al Kitab (Al Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat jujur dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkat derajatnya ke tempat yang tinggi.”

Di dalam hadis disebutkan, “Apabila Allah menghendaki pencabutan ruh seorang mukmin, datanglah malaikat maut dari arah mulutnya untuk mencabut ruhnya. Tetapi keluarlah dzikir dan berkata, ‘Tidak ada jalan untukmu dari arah ini. Sesungguhnya ia telah melewatkan dzikir kepada Tuhanku melalui mulut ini.’

Maka kembalilah malaikat maut kepada Tuhannya dan berkata, ‘Dia berkata begini dan begini.’ Allah berfirman, ‘Cabutlah dari arah lain.’ lalu datanglah malaikat maut dari arah tangan. Tetapi keluarlah dari sana sedekah, mengusap kepada anak yatim, menulis ilmu dan menebaskan pedang. Berkatalah tangan itu seperti pertama (mulut), kemudian malaikat maut datang kearah kaki dan berkatalah kaki seperti pertama, ‘Karena dia telah berjalan dengan aku menuju shalat berjamaah, shalat hari raya dan majelis-majelis pengajian.’

Kemudian datanglah malaikat maut dari arah telinganya dan telinga itu berkata seperti pertama, ‘Karena dia telah mendengar Al Qur’an dengan aku dan mendengar dzikir.’ Datanglah malaikat maut dari arah mata dan berkatalah mata, ‘Seperti pertama, karena dia telah melihat dengan aku pada mushaf-mushaf dan kitab-kitab.’

Kemudian kembalilah malaikat maut kepada Allah dan berkata, ‘Ya Tuhanku, semua anggota tubuh hamba itu telah mengalahkan aku dalam hujjah. Bagaimana aku harus mencabut ruhnya?’

Allah swt berfirman, ‘Tulislah asma-Ku pada telapak tanganmu dan perlihatkan dia pada ruh seorang mukmin.’ Maka ruh mukmin melihatnya lalu mencintainya dan keluarlah dia dari mulut.”

Demikianlah berkat asma Allah hilanglah darinya penderitaan dicabutnya ruh. Lalu bagaimana tidak hilang darinya siksa, terputus dari rahmat dan tercemar di akhirat? Demikian pula asma Allah di dalam dadamu.

Allah berfirman dalam surat Al Mujadilah ayat 22, “Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya ditulis keimanan oleh Allah.”

Dan dalam surat Az Zumar ayat 22, “Maka apakah orang yang dilapangkan dadanya oleh Allah untuk menerima islam, lalu dia mendapat rahmat dari Tuhannya…”

Bukankah akan berpaling (hilang) dari kamu adzab dan penderitaan kiamat?

 

Sumber: Durrotun Nasihin