Keutamaan Orang Fakir dan Miskin

Nabi Muhammad beserta para sahabat hidup dalam kesederhanaan, tidak berfoya-foya dengan harta, dan selalu mengharap ridha Allah swt.

Nabi Muhammad mengajarkan agar umatnya sabar dalam menghadapi kemiskinan dan kefakiran, dan berharaplah ridha dari Allah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Malaikat Jibril turun dan berkata, “Ya Muhammad, sesungguhnya Allah membacakan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, ‘Apakah engkau suka kalau gunung-gunung ini Aku jadikan emas untukmu dan akan selalu bersamamu kemana engkau pergi?’ lalu beliau menunduk sesaat dan bersabdalah, ‘Hai Jibril, sesungguhnya dunia ini adalah negeri orang yang tidak memiliki negeri, harta orang yang tidak memiliki harta dan mengumpulkannya orang yang tidak memiliki akal.’ Jibril berkata, ‘Semoga Allah meneguhkan engkau pada ucapan yang tetap.”

Dari A’isyah, dia berkata, “Kami keluarga Nabi Muhammad saw sungguh telah berdiam selama satu bulan dengan tidak pernah menyalakan api. Tidak ada kecuali kurma dan air.”

Nabi Muhammad berkata kepada Bilal, “Hai Bilal, matilah dalam keadaan fakir dan jangan mati dalam keadaan kaya.”

A’isyah berkata, “Belum pernah perut Nabi Muhammad saw penuh karena kenyang samak sekali, tetapi beliau tidak pernah mengadukan kepada seorangpun. Kefakiran lebih beliau suka daripada kekayaan. Nabi pernah merasa lapar sepanjang malamnya, tetapi tidak menghalanginya untuk berpuasa pada siang harinya. Jika beliau mau tentu dapat memohon kepada Tuhannya seluruh simpanan kekayaan bumi, buah-buahannya dan kelapangan hidupnya. Aku benar-benar telah menangisinya karena merasa kasihan terhadap apa yang aku lihat pada dirinya. Aku mengusap perutnya dengan tanganku karena lapar yang dimilikinya dan aku sampai berkata, ‘Diriku sebagai tebusanmu, hendaklah engkau mengambil bekal dari dunia ini sesuatu yang dapat membuat kekuatanmu.’

Nabi Muhammad menjawab, ‘Hai A’isyah untuk apakah aku dan dunia ini? Saudara-saudaraku para Rasul Ulul Azmi, mereka telah bersabar menghadapi penderitaan yang lebih berat dari ini, mereka tetap berlalu pada keadaan mereka. Akhirnya mereka datang menghadap Tuhannya, lalu Allah memuliakan kedudukan mereka dan mengagungkan pahalanya. Jadi aku merasa malu jika aku sempurna dalam kehidupanku lalu Allah mengurangi kedudukanku kelak di bawah mereka. Tiada sesuatu yang lebih aku suka daripada bertemu dengan saudara-saudaraku dan kekasih-kekasihku.’

Aisyah berkata, “Setelah ini beliua tidak berdiam di dunia ini kecuali hanya sebulan, wafatlah beliau.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *