Keutamaan Kalimat Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah (Syahadat)

Syahadat

Sesungguhnya ada seorang laki-laki sedang wukuf di Arafah, sedang ditangannya memegang 7 buah batu. Berkatalah dia, “Wahaibatu-batu, bersaksilah bahwa aku bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. lalu diletakkanlah batu-batu itu di bawah kepalanya dan tidurlah dia. Dilihatnya dalam mimpi seakan-akan kiamat telah tiba, dan dia dihisab serta diputuskan neraka baginya.

Para malaikat membawanya pergi ke neraka. Tiba-tiba sebuah batu dari batu-batu itu menjatuhkan dirinya di pintu neraka. Berkumpullah para malaikat siksa untuk mengangkatnya, tetapi mereka tidak kuat mengangkatnya. Kemudian mereka membawa laki-laki itu ke pintu yang lain. tiba-tiba di sana sudah ada sebuah batu dari batu-batu yang tujuh itu pula.

Mereka berkumpul tetapi tetapi tetap tidak mampu mengangkatnya, hingga akhirnya mereka membawanya ke depan tujuh pintu neraka dan pada setiap pintu terdapat sebuah batu dari 7 batu itu.

Kemudian para malaikat membawanya ke Arasy, dan berfirmanlah Allah swt, “Hai Hamba-Ku, engkau telah minta minta kesaksian batu-batu itu dan mereka tidak menyia-nyiakan hakmu. Bagaimana pula Aku harus menyia-nyiakan hakmu, dan Akupun bersaksi dengan kesaksianmu itu. Hai malaikat masukkanlah dia ke surga.”

Ketika dia dekat dengan surga ternyata pintu-pintu telah terbuka dengan kunci yaitu Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah.”

Rasulullah saw bersabda, “Aku pernah masuk ke dalam surga dan aku lihat pada pintunya tertulis 3 baris:

  1. Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah
  2. Wajadnaa maa qaddamnaa, wa rabihnaa maa akalnaa wa khasirnaa maa khalafnaa (Kami telah menemukan apa yang telah kami kerjakan. Kami beruntung dengan semua yang kami makan. Dan kami merasa rugi terhadap apa yang tinggalkan.) seperti firman Allah, ‘Pada harinya orang menemukan semua kebaikan yang telah dikerjakannya telah dihadirkan, juga segala kejahatan yang pernah dikerjakannya, dia mengharapkan kalau antara dia dengan hari itu terdapat waktu yang lama.’ (Ali Imran ayat 30)
  3. Ummatun mudznibatun wa rabbun ghafuurun (Umat yang berdosa dan Tuhan Yang Maha Pengampun)

 

Sumber: Durrotun Nasihin