Kemuliaan yang dimiliki oleh orang fakir

Menurut Abul Laits bahwa orang-orang fakir memiliki lima macam kemuliaan, yaitu:

  1. Bahwa pahala amal mereka lebih banyak daripada pahala amal orang-orang kaya, baik dalam shalat, sedekah dan yang lain.
  2. Orang fakir apabila dia menginginkan sesuatu yang tidak ditemukannya maka ditulislah pahala baginya.
  3. Mereka mendahului dalam masuk surga.
  4. Bahwa hisab mereka sedikit (ringan) di akhirat.
  5. Bahwa penyesalan mereka adalah lebih sedikit. karena orang-orang kaya di akhirat berkhayal kalau dahulu di dunia menjadi orang-orang fakir saja.

Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Aku pernah masuk pada Rasulullah saw suatu hari, sedang beliau berbaring di atas tikar itu benar-benar membekas pada lambungnya. Lalu akupun memandang ke almari dan aku lihat sekitar satu sha’ gandum (2 ½ kg). Lalu aku menangis. Beliau bersabda, ‘Apakah yang membuatmu menangis?’ aku menjawab, ‘Raja dan kaisar Rum tidur di atas hamparan sutra, sedang engkau adalah Rasulullah, tetapi aku lihat kefakiran yang menimpamu seperti apa yang aku lihat ini.”

Nabi Muhammad kemudian bersabda, “Hai Umar, tidaklah engkau puas bahwa akhirat milik kita dan dunia milik mereka?” beliau bersabda dengan kata ‘kita’ dan tidak ‘aku’ padahal pertanyaan adalah mengenai keadaan beliau sendiri, adalah suatu isyarat bahwa akhirat adalah milik pengikut-pengikutnya juga.

Juga diriwayatkan:

“Hai Ibnul Khaththab, disegerakan kenikmatan mereka dalam kehidupan dunia ini. Yakni bagian mereka orang-orang kafir adalah apa yang mereka peroleh dari kenikmatan dunia ini dan tidaklah mereka mendapat berkah kelak di akhirat.

Fakir Miskin

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Orang-orang fakir dari ummatku berdiri di hari kiamat, sedang wajah mereka seperti bulan, rambutnya disulam intan dan mutiara, di tangannya terdapat gelas-gelas dari nur, mereka duduk di atas mimbar-mimbar dari nur pula pada saat manusia sedang menghadapi hisab. Penghuni surga memandang mereka dan berkata, ‘Apakah mereka itu dari golongan maksiat?’ orang-orang fakir itu berkata, ‘Tidak.’

Malaikat-malaikat pun memandang mereka dan berkata, ‘Apakah mereka ini dari golongan para Nabi?’ merekapun menjawab, ‘Tidak, tetapi kami dari golongan ummat Muhammad saw.’ Malaikat bertanya, ‘Dengan amal apakah Allah mengaruniakan pada kamu derajat setinggi ini?’ mereka menjawab, ‘Bukanlah amal kami banyak, kami tidak puas setahun dan tidak mengerjakan shalat sepanjang malam. Tetapi kami selalu memelihara shalat lima waktu dengan berjamaah, ketika kami mendengar nama Muhammad saw berderailah air mata kami, kami berdoa dengan hati yang khusyu’ dan bersyukur kepada Allah atas kefakiran yang telah menimpa kami.”

Dari Amr bin Syu’aib, dia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada dua hal, barang siapa dua hal itu berada pada dirinya maka Allah akan menulisnya sebagai orang yang bersyukur lagi bersabar:

  1. Orang yang memandang dalam perihal agamanya kepada orang yang berada di atasnya lalu dia mengikutinya.
  2. Orang yang memandang dalam perihal dunianya kepada orang yang berada di bawahnya lalu dia memuji Allah atas karuna Allah pada dirinya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisaa ayat 32:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Dari Syaqiq Az Zahid, dia berkata bahwa orang-orang fakir memilih 3 hal dan orang-orang kaya pun memilih 3 hal pula. Orang-orang fakir memilih kenyamanan tubuh (dapat beristirahat), ketenangan hati dan keringanan hisab. Sedang orang kaya memilih kepenatan tubuh, kesibukan hati dan kesulitan hisab.”

Al Junaid Al Baghdadi berkata bahwa faqru terfiri dari tiga huruf:

  1. Fa’ adalah fana’, artinya binasa.
  2. Qaaf adalah qanaah, artinya menerima apa adanya.
  3. Ra’ adalah riyadhah, artinya melatih hawa nafsu supaya baik.

Jika tiga hal ini tidak dimiliki seorang fakir, maka bukanlah dia seorang fakir.

Disebutkan bahwa orang kaya akan masuk surga sesudah hamba mereka dengan selisih 500 tahun. Orang kafir yang fakir masuk neraka setelah orang-orang kaya mereka dengan selisih 500 tahun. Tetapi hendaknya kita mengetahui bahwa lebih dahulu masuk surga tidak selamanya menunjukkan ketinggian derajatnya atas orang yang msuk belakangan. Sebab terkadang ada orang yang masuk surga belakangan tetapi derajatnya daripada orng yang telah mendahuluinya, seperti orang-orng yang telah menafkahkan hartanya dalam bentuk kebaikan.