Janganlah cinta dunia (bersikap zuhud)

Dunia itu merupakan sesuatu yang fana atau tidak abadi, yang abadi adalah di akhirat. Oleh karena itu, selama hidup di dunia haruslah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ibnus Sammak berkata, “Barang siapa yang dunia ini telah menegukkan kemanisannya kepada orang itu karena dia condong kepadanya, maka akhirat akan menegukkan kepahitannya kepada orang itu karena dia menjauhinya.”

Disebutkan bahwa perumpamaan dunia ini adalah seperti seekor ular. Di dalamnya terdapat bisa dan obat. manfaatnya adalah obatnya sedang bahayanya adalah bisanya. Barang siapa yang mengetahui perihal ular itu tentu akan mengambil manfaat dengan obatnya dan menghindari bisanya.

Diriwayatkan bahwa Abu Bakar telah menginfakkan 40 ribu dinar untuk perang sabilillah secara rahasia, dan 40 ribu dinar lagi dengan cara terang-terangan sehingga tidak tersisa sedikitpun baginya. Dia sampai tidak keluar dari rumahnya selama 3 hari karena tidak menemukan pakaian untuk menutup auratnya dan dia tidak datang menghadap Nabi Muhammad saw.

Datanglah Nabi Muhammad ke rumah para istrinya, beliau mengamati ke rumah Fathimah, beliau bersedih karena perihal Abu Bakar. Beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang dapat kita berikan kepada Abu bakar.” Demikian pula Fathimah ikut bersedih hati. Keluarlah Nabi Muhammad dari rumah Fathimah dengan bersedih, demikian pula Fathimah juga tetap bersedih karena diapun tidak menemukan sesuatu yang dapat diberikannya kepada Abu Bakar.

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fathimah dengan Ali, beliau mengundang Abu Bakar, Umar dan Usamah untuk mempersiapkan Fathimah.  Merekapun membawakan penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak, sebuah bantal yang berisi sabut, tasbih dari biji buah kurma, sebuah kendi (tempat air) dan sebuah piring.

Menangislah Abu Bakar dan berkata, “Ya Rasulullah, ini persiapan (perbekalan) Fathimah.” Bersabdalah Nabi Muhammad, “Hai Abu Bakar, ini sudah cukup banyak bagi orang yang berada di dunia.”

Keluarlah Fathimah sebagai pengantin dengan memakai pakaian bulu yang terdapat tambalan sebanyak 12 tempat. Dia selalu menggiling gandum dengan tangannya, membaca Al Qur’an dengan lidahnya, menafsirkannya dengan hatinya, menggerakkan buaian dengan kakinya dan menangis dengan matanya. Sedang seorang perempuan di zaman kita ini memukul rebana dengan tangannya, menggunjing dengan lidahnya, cinta dunia dengan hatinya dan mengedipkan matanya (memberi isyarat dengan matanya).

Kemudian ketika Nabi Muhammad keluar dengan bersedih dari rumah Fathimah, Fathimah menuju ke bantal yang diberikan padanya sebagai perbekalan, dan baju kasar yang ditenunnya dengan tangannya sendiri. Dia mengutus jariyahnya (budak perempuan) dan berkata, “Katakan kepada Abu Bakar bahwa kami telah mengetahui apa yang telah diperbuatnya dengan ayah kami. Tetapi tidak ada sesuatupun pada kami selain bantal yang diberikan ayah kami sebagai bekal kami dan sepotong baju kasar.”

Ketika jariyah itu sampai di depan pintu dia memanggil-manggil dan berkata, “Assalaamu’alaika hai pemilik kebenaran. Sesungguhnya tuanku puteri Fathimah binti Nabi Muhammad saw membacakan salam kepadamu dan berkata kepadamu dan berkata begini dan begini.”

Abu Bakar menjawab, “Wa alaihas salam.” Diambilnyalah baju kasar itu dan dikenakannya baju kasar itu tanpa dijahit lebih dahulu, karena tergesa-gesa agar dapat segera melihat wajah Nabi Muhammad saw. Dia membuat kancing baju dengan duri dari pohon kurma agar tidak tersingkap ketika digunakan berjalan. Keluarlah dia menghadap Nabi Muhammad dengan berjalan kaki dan tidak beralas.

Jibril pun datang menghadap Nabi Muhammad dan dia melihat Abu Bakar mengenakan baju kasar dan diberi kancing dengan duri pohon kurma. Bersabdalah Nabi Muhammad kepada Jibril, “Hai saudaraku Jibril, sesungguhnya aku belum pernah melihatmu dalam bentuk seperti ini sebelum ini.”

Jibril menjawab, “Ya Rasulullah, engkau melihatku seperti ini sedang di kerajaan langit tidak ada malaikat satupun kecuali memakai pakaian seperti ini karena cinta kepada Abu Bakar dan sangat setuju kepadanya.”

Jibril juga berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah membacakan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, ‘Katakanlah kepada Abu Bakar bahwa apakah dia ridha kepada Allah sebagaimana Allah ridha kepadanya?’

Maka Nabi Muhammad memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar dan menangislah Abu Bakar sampai berkata, ‘Ya Tuhanku, aku ridha kepada Engkau dan Engkau ridha kepadaku.” Dikatakannya sampai 3 kali.

Nabi Muhammad bersabda, “Empat hal termasuk celaka, yaitu: kekeringan mata (tidak bisa menangis), kekerasan hati (sulit menerima nasihat), panjang angan-angan, dan cinta dunia.”

Nabi Muhammad bersabda, “Seandainya dunia ini mengimbangi sayap seekor nyamuk atau sayap seekor burung menurut Allah, tentu Dia tidak akan membri minum seteguk air dari dunia itu kepada orang kafir.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin