Bolehkah membaca shalawat kepada selain Nabi Muhammad

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah bersabda, “Bacalah shalawat kepada Nabi-Nabi Allah dan Rasul-Rasul-Nya, karena Dia telah mengutus mereka sebagaimana Dia telah mengutus aku.”

Diriwayatkan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa, “Apakah engkau ingin lebih dekat kepada-Ku daripada pemberianmu dengan lidahmu, daripada nyawa dengan tubuhmu, daripada cahaya penglihatanmu dengan kedua matamu dan daripada pendengaranmu dengan telingamu, maka perbanyaklah bacaan shalawat kepada Muhammad saw.”

Ada perbedaan pendapat mengenai boleh atau tidaknya membaca shalawat untuk selain Nabi.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tidak boleh membaca shalawat atas selain Nabi.” Dia juga berkata, “Tidak seyogyanya membaca shalawat atas seseorang kecuali para Nabi.”

Perbedaan pendapat mengenai hal ini memang banyak sekali. tidak mengapa membaca shalawat kepada para Nabi dan kepada lainnya. pendapat ini menggunakan dalil dengan hadis Ibnu Umar, dan hadis yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan cara membaca shalawat kepada beliau, dan dalam hadis tersebut terdapat ‘alaa azwaajihi wa ‘alaa aalihi (dan kepada istri-istri beliau dan keluarga beliau).’

Nabi Muhammad juga bersabda, “Allaahumma shalli ‘alaa aali Abii Aufaa” (Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga Abi Aufa).

Nabi Muhammad saw ketika didatangi sekelompok orang dengan membawa sedekah mereka, beliau bersabda, “Allaahumma shalli ‘alaa aali Fulan” (Ya Allah, berilah shalawat atas keluarga Fulan).

Dan dalam hadis lain yang menerangkan bacaan shalawat: Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihii” (Ya Allah, berilah shalawat kepada Nabi Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya).

Yang dimaksud dengan kata ‘aali’ adalah para pengikut beliau. Demikian menurut pendapat ulama. Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa aali adalah ummatnya. Pendapat ketiga adalah rumahnya. Ada yang mengatakan bahwa aal berarti dari seseoranga adalah anaknya. Ada yang mengatakan kaumnya. Ada yang mengatakan lagi bahwa yang dimaksud aali adalah keluarga beliau yang haram diberikan zakat.

Di dalam riwayat Anas, “Nabi Muhammad saw pernah ditanya, ‘Siapakah aalu Muhammad itu?’ beliau bersabda, ‘Setiap orang yang bertakwa.’

Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud aalu adalah diri beliau sendiri. Karena Nabi Muhammad saw telah bersabda dalam bacaan shalawatnya, ‘Allaahummaj’al shalaataka ‘alaa aali Muhammadin.’ Beliau maksudkan dengan aali adalah dirinya sendiri yang mulia.

 

Sumber: Durrotun Nasihin