Bahaya Riya

Riya

Amal yang diperbuat oleh seseorang, namun tidak karena Allah maka disebut riya. Sedangkan riya adalah syirik yang tersamar, dan Allah tidak akan menerima amal orang yang berlaku riya.

Syaddad bin Aus berkata bahwa dirinya pernah melihat Nabi Muhammad sedang menangis. Kemudian dia bertanya, “Apakah yang membuatmu menangis ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Aku khawatir terhadap ummatku mengenai syirik. Ingat, mereka tidaklah menyembah berhala, tetapi mereka akan riya dengan amal-amal mereka.”

Nabi Muhammad bersabda, “Malaikat hafadhah (penjaga amal hamba) telah naik dengan membawa amal seorang hamba, terdiri dari puasa, shalat, infak dan lainnya. amal itu mempunyai suara dengan seperti suara lebah saja, bersinar laksana sinar matahari, dan diiring oleh 3 ribu malaikat. Mereka membawa amal itu sampai melewati langit ketujuh. Tetapi berkatalah malaikat penjaga langit ke tujuh itu kepada malaikat hafadhah, ‘Pergilah dan pukulkanlah amal ini pada wajah pemiliknya dan anggota-anggota tubuhnya, serta tutupkan kepada hatinya. Karena aku adalah bertugas menghalangi dari Tuhanku naiknya setiap amal yang tidak dimaksudkan untuk Tuhanku. Sesungguhnya pemiliknya hanya menginginkan selain Allah. karena dia menginginkan dengan amalnya itu kemuliaan dan riya di hadapan para fuqaha’ dan terkenal di kalangan ulama serta nama harum di kota-kota dan dalam masyarakat. tuhanku memerintahkan aku agar tidak melepaskan dan membiarkan amalnya melewati aku kepada selain aku.’

Pada saat yang lain malaikat hafadhah naik dengan membawa amalan yang baik dari hamba. Para malaikat langit mengiringinya sehingga dapat menembus beberapa penghalang (hijab) seluruhnya menuju kepada Allah. berdirilah mereka di hadapan Allah dengan bersaksi untuk hamba itu dengan keshalihan amalnya dan murni karena Allah.

Berfirmanlah Allah swt, “Kamu adalah penjaga-penjaga atas amal hambaku, sedang aku selalu mengawasi hatinya. Sesungguhnya dia tidak menginginkan Aku dengan amalan ini. Tetapi dia menginginkan selain aku dengan amal itu. Maka baginya laknatku dan laknat semua malaikat dan laknat langit serta isinya.”

Mu’adz mengatakan bahwa dirinya berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanya Mu’adz.” Beliau bersabda, “Ikutilah aku wahai Mu’adz, walaupun terdapat kekurangan dalam amalmu. Hai Mu’adz, peliharalah lidahmu jangan sampai jatuh dalam pergunjingan mengenai kawan-kawanmu muslimin, dengan membaca Al Qur’an. Pikullah sendiri dosa-dosamu di atas pundakmu dan janganlah engkau timpakan dosa itu pada mereka. Janganlah engkau menyucikan diri dengan cara mencela mereka dan jangan mengangkat dirimu sendiri merendahkan mereka. Janganlah engkau masukkan amalan dunia ke dalam amalan akhirat. Janganlah engkau sombong dalam majlismu agar manusia takut dari kelakuanmu yang buruk. Janganlah engkau berbisik pada seseorang sedang di sampingmu ada orang lain lagi. Janganlah engkau mengagungkan diri merendahkan mereka. Dan janganlah engkau mencabik-cabik orang lain dengan lidahmu, sebab akhirnya engkaupun dicabik-cabik anjing-anjing neraka pada hari kiamat di neraka.

Allah berfirman dalam surat An Naazi’at ayat 2, “Demi anjing yang mencabik-cabik dengan sepenuh cabikan.”

“Apakah engkau mengerti apakah ‘Nasyithaat itu hai Mu’adz?”

Mu’adz menjawab, “Apakah Nasyithaat itu, demi ayah dan ibuku sebagai tebusan engkau ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ia adalah anjing-anjing di neraka, yang mencabik daging-daging orang-orang yang telah mencabik daging orang lain dengan lidahnya, dan mengelupas daging dan tulang.”

Mu’adz bertanya, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan engkau ya Rasulullah, siapakah yag kuat menghadapi perihal itu dan siapakah yang dapat selamat darinya?” Beliau bersabda, “Hai Mu’adz, hal itu akan mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah swt.”

Seorang laki-laki bernama Khalid bin Miqdad berkata, “Lalu aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak membaca Al Qur’an daripada Mu’adz karena hadis itu.”

 

Sumber: Durrotun Nasihin