Isra’ Mi’raj tidak masuk akal?

Ketika Nabi Muhammad menceritakan mengenai di isra’kannya beliau kepada masyarakat, maka banyak orang yang menjadi murtad, dan tidak mempercayai cerita Nabi Muhammad.

Ada golongan orang musyrik yang datang kepada Abu Bakar dan berkata, “Kawanmu mengira bahwa dia telah diisra’kan malam in ke Baitul Maqdis, dan dari sana ke langit dan dia datang sebelum subuh.” Abu Bakar menjawab, “Kalau memang dia berkata begitu tentu memang benar.” Mereka berkata lagi, “Engkau dapat membenarkannya dalam ini?” Abu Bakar menjawab, “Ya, aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh dari itu.” Karena itulah dia terkenal dengan sebutan Abu Bakar Ash Shiddiq (yang sangat membenarkan Rasulullah saw).

Datang pula seorang musyrik kepada Nabi Muhammad saw dan berkata, “Hai Muhammad, berdirilah!” Maka berdirilah Nabi Muhammad.

Lalu orang itu berkata lagi, “Angkatlah salah satu dari kedua kakimu.” Nabi pun mengangkatnya. Orang itu berkata lagi, “Angkat pula kakimu yang lain.” Nabi Muhammad bersabda, “Jika aku mengankatnya tentu aku terjatuh.”

Berkatalah orang kafir itu, “Jika engkau tak dapat mengangkat sejengkal saja dari bumi, lalu bagaimana engkau dapat mengangkat sampai ke langit dan bahkan ke Sidratul Muntaha?”

Nabi Muhammad bersabda, “Keluarlah dari masjid dan tanyakanlah pertanyaan itu kepada Ali. Dialah yang akan menjawabmu.”

Keluarlah orang itu dari masjid dan dia bertemu dengan Ali. Diceritakannya semua cerita itu kepada Ali. Seketika itu jug Ali menghunus pedangnya dan menebas batang lehernya, matilah orang kafir itu. Para sahabat menentang tindakan Ali dan bertanya, “Mengapa engkau membunuhnya? Sedang sabda Nabi itu dapat diterima akal, sedang beliau memerintahkanmu untuk menjawab bukan membunuh.”

Ali berkata, “Jawaban untuk orang yang menentang adalah demikian itu. Karena Rasulullah bukanlah tidak mampu menjawabnya. Tetapi beliua mengetahui bahwa orang ini tidak akan mau menerima jawaban. Karena itu beliau mengirimkannya kepadaku untuk membunuhnya.”

Rasulullah memang tidak mampu naik walaupun sejengkal saja dengan daya dan kekuatannya sendiri. Tetapi peristiwa Mi’raj adalah karena kekuatan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Kuat, dan semua bentuk kekuasaan di sisi kekuasaan-Nya adalah ibarat seekor semut kecil dengan matahari atau setetes  air dengan lautan.

Kemudian mereka berkumpul di sisi Nabi Muhammad dan duduk mengelilingi beliau. Mereka menanyakan beberapa hal di Baitul Maqdis. Mereka berkata, “Ceritakanlah kepada kami mengenai rombongan unta kami (rombongan pedagang kami) yang telah berangkat ke Syam. Apakah engkau juga bertemu sesuatu dari mereka?”

Nabi Muhammad bersabda, “Benar aku telah melewati rombongan Bani Fulan, mereka berada di Rauha’ dan mereka sedang kehilangan seekor untanya dan mereka sedang mencarinya. Di dalam perkemahan mereka terdapat segelas air yang aku ambil dan aku minum airnya. Kemudian aku meletakkannya kembali seperti semula. Bertanyalah kepada mereka apakah mereka masih menemukan air itu di dalam gelas sewaktu mereka kembali?” mereka berkata, “Ini adalah suatu bukti.”

Mereka berkata lagi, “Ceritakan kepada kami mengenai rombongan unta kami, kapan mereka datang?”

Nabi Muhammad bersabda, “Aku melewati mereka di Tan’im, yaitu sebuah tempat di dekat tanah Haram.” Mereka berkata, “Lalu berapa bilangannya, muatannya, keadaannya dan siapa saja yang berada di dalamnya?”

Nabi Muhammad bersabda, “Rombongan itu adalah begini dan begini dan di dalamnya ada Fulan dan Fulan. Rombongan itu yang paling depan adalah seekor unt abu-abu, yaitu seekor unta yang warnanya seperti tanah yang ada dua warna putih pada unta itu. Mereka akan muncul pada kamu saat matahari terbit nanti.”

Mereka berkata, “Ini sebuah tanda bukti.” Lalu mereka keluar pada saat terakhir dari malam itu. Mereka menungu rombongan unta datang untuk membuktikan kebenaran dari Nabi Muhammad mengenai berita dari langit kalau memang terlihat kebenarannya.

Berkatalah seorang dari mereka, “Ini matahari telah terbit.” Yang lain pun berkata, “Nah itu dia rombongan unta telah muncul, demi Allah mereka didahului seekor unta yang abu-abu dan di sana ada Fula dan Fulan.” Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi Muhammad saw.” Tetapi mereka tetap tidak mau beriman, dan bahkan berkata, “Tidak lain ini hanyalah sebuah sihir yang nyata.”

Sumber: Durrotun Nasihin