Berbuat Adil

Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar selalu berbuat adil dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, dalam hubungan dirinya dengan Tuhannya, serta hubungan dengan makhluk.

Adil dalam hubungan dirinya dengan Tuhannya adalah mengutamakan kepentingan Allah atas kepentingannya sendiri, mendahulukan ridha-Nya daripada kesenangan dirinya, menghindarkan diri dari segala macam larangan dan berdiri sendiri dalam menekuni perintah.

Adil dalam hubungannya dengan dirinya sendiri adalah mencegah dirinya dari hal-hal yang menyebabkan kebinasaannya.

Sedangkan adil dalam hubungan dirinya dengan sesama makhluk adalah mencurahkan keinginan baik (nasehat) pada semua orang dan menghindari pengkhianatan baik dalam hal yang sedikit maupun yang banyak, serta berlaku insyaf kepada mereka dengan segala macam cara. Demikian pula supaya tidak berbuat jahat kepada makhluk, baik dengan ucapan, perbuatan, dan hati.

Adil

Allah berfirman dalam surat An Nahl ayat 90, “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil, berbuat baik dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang perbuatan keji dan munkar serta aniaya. Dia menasehatkan pada kamu agar kamu mengambil pelajaran.”

Keutamaan memberi maaf

Dari Abu Hurairah dan dari Sahl bin Mu’adz, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Barang siapa yang menahan kemarahannya, sedang dia mampu untuk melaksanakan kemarahannya itu, maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan semua manusia sehingga dia disuruh memilih bidarari manakah yang dia suka.”

Diriwayatkan bahwa Allah telah berfirman kepada Nabi Musa, “Barang siapa yang mampu dan mau memberi maaf maka Aku akan memandangnya setiap hari 70 kali. Dan barang siapa yang Aku pandang sekali saja Aku tidak akan menyiksanya dengan neraka-Ku.”

Oleh karena itu hendaklah orang yang berakal membiasakan diri untuk memaafkan orang lain dan berbuat baik kepada mereka, dan memelihara diri dari kejengkelan dan kemarahan. Karena hal itu akan menyebabkan orang disiksa di neraka.

Sumber: Durrotun Nasihin