Sejarah Sifat Dengki

Sifat dengki merupakan sifat yang sangat buruk sekali dan dilarang di dalam ajaran islam. Kedengkian yang berada di dalam hati seseorang bisa menggerogoti amal kebaikan yang telah dilakukan.

Sifat dengki ini berawal dari anak Nabi Adam, yaitu Qabil, dan kisahnya diceritakan di dalam Al Qur’an dan ditafsirkan oleh para ulama.

Allah berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 27, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Kemudian Allah juga berfirman dalam surat Al Maa’idah ayat 32, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[a], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya[b]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[c] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

[a] Yakni: membunuh orang bukan karena qishaash.

[b] Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[c] Ialah: sesudah kedatangan Rasul membawa keterangan yang nyata.

Dengki

Disebutkan bahwa Habil telah bermaksud mengorbankan domba terbaik di antara kambing-kambing miliknya, dan menyimpan dalam hatinya bahwa qurban itu diniatkan agar mendapat ridha Allah. Sedangkan Qabil mengurbankan gandum yang paling rendah di antara gandum yang menjadi miliknya.

Lalu mereka meletakkan kedua korban mereka di atas gunung. Kemudian Nabi Adam berdoa dan turunlah api dari langit serta makan qurban dari Habil dan tidak makan qurban dari Qabil. Maka marahlah Qabil kepada Habil dan menyembunyikan kedengkian di dalam hatinya kepada saudaranya itu sampai Nabi Adam pergi ke Mekah untuk berziarah ke Baitullah dan meninggalkan mereka.

Datanglah Qabil menghampiri Habil yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Berkatalah Qabil, “Sungguh aku benar-benar akan membunuhmu.” Habil bertanya, “Mengapa engkau membunuhku?” Qabil berkata lagi, “Karena Allah telah menerima qurbanmu dan menolak kurbanku. Dan engkau mau menikahi saudara kembarku yang cantik dan aku harus menikah dengan saudara kembarmu yang tercela. Orang-orang akan memperbincangkan bahwa engkau lebih baik daripada aku dan anak-anakmu akan membanggakan dirinya pada anak-anakku.”

Dijelaskan di dalam Tafsir Al Khazin, Muhammad bin Ishaq berkata bersumber dari penjelasan orang-orang yang alim mengenai kitab-kitab terdahulu bahwa sesungguhnya Nabi Adam telah menggauli Hawwa’ di surga sebelum melakukan kesalahan. Maka Hawwa’ mengandung Qabil dan saudara kembarnya perempuan, dengan tidak mengalami ngidam dan kepayahan, dan tidak merasakan sakitnya melahirkan serta tidak meneteskan darah waktu melahirkan.

Setelah Nabi Adam turun ke bumi dan menggauli Hawwa’ lalu mengandung Habil dan saudara perempuan kembarnya. Dirasakannya ngidam, payah, sakit saat melahirkan dan mengeluarkan darah. Hukum waktu itu seorang laki-laki boleh mengawinkan puterinya dengan saudaranya yang manapun selain saudara laki-laki kembarnya yang lahir bersamanya.

Setelah Habil dan Qabil dewasa, di antara mereka terdapat selisih dua tahun, maka Allah memerintahkan Nabi Adam untuk mengawinkan Qabil dengan Layudza dan mengawinkan Habil dengan Iqlima saudara kembar Qabil.

Iqlima adalah lebih cantik daripada Layudza (saudara kembar Habil). Nabi Adam menyampaikan perintah itu, maka puaslah Habil tetapi Qabil menjadi jengkel. Qabil berkata, “Dia saudara kembarku dan aku lebih berhak dengannya karena kami putera-putera surga. Sedang mereka (Habil dan Layudza) adalah putera-putera bumi……..”

 

Sumber: Durrotun Nasihin