Menjemput Rahmat Allah dan Surga Dengan Ibadah dan Cinta Kepada Allah

Surga merupakan sebuah tempat yang sangat diidamkan oleh setiap umat manusia, baik itu umat muslim ataupun non muslim. Surga merupakan balasan dari Allah bagi orang-orang yang selama hidupnya di dunia bertakwa kepada-Nya, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kenikmatan yang diberikan Allah kepada manusia yang melakukan amal kebaikan

Ketahuilah bahwa manusia itu mempunyai tiga hal dari bentuk kebaikannya, yaitu:

  1. amalan hatinya, yaitu membenarkan, ini tidak dapat dilihat dan tidak dapat didengar, tetapi dapat diketahui.
  2. Amalan lidahnya, amal ini dapat didengar.
  3. Amalan semua anggotanya yang lain, amal ini hanya dapat dilihat.

Jika seorang hamba telah menggunakan semua anggota badan itu untuk mengerjakan amal shaleh, maka Allah menyediakan untuk amalnya yang dapat didengar kenikmatan yang tidak pernah didengar oleh telinga, untuk amal yang dapat dilihat kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan untuk amalan hatinya kenikmatan yang tidak pernah terlintas di hati manusia.

Karena itulah hendaknya seorang hamba melestarikan taat kepada Allah, sebab Allah tidak akan mengurangi sedikitpun dari pahala kebaikan bahkan memberi surga dan derajat yang tinggi.

Diriwayatkan dari Hatim Az Zahid, dia berkata, “Barang siapa yang mengaku cinta kepada Tuhannya tanpa disertai wara’ maka dia seorang pembohong. Barang siapa yang mengaku masuk surga tanpa disertai menginfakkan hartanya, maka dia adalah pembohong. Barang siapa yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad tanpa disertai mengikuti sunnahnya, maka dia adalah seorang pembohong.. dan barang siapa yang mengaku suka mendapatkan derajat yang tinggi tanpa mau berkawan dengan orang-orang fakir dan miskin, maka dia adalah pembohong.”

Kisah mengenai orang yang cinta kepada Allah dan melakukan amal shalih

Dikisahkan dari Hasan Al Bashri, dia pernah melihat Bahram bangsa Ajam pada suatu hari sedang menggali kuburan. Dia mengambil tengkorak-tengkorak orang mati dan menusukkan tongkat pada lubang telinga tengkorak yang diambilnya. Jika tengkorak itu dapat menembus lubang telinga hingga ke lubang telinga yang lain, maka dia membuang tengkorak itu. Jika tongkat itu tidak dapat menembusnya sama sekali, maka diapun membuangnya.

Tetapi jika tongkat itu berhenti pada otak tengkorak itu dia menciuminya lalu menguburnya kembali. Kemudian Hasan Al Bashri bertanya kepadanya mengenai hal tersebut, dan dijawab oleh orang tersebut, “Kepala yang bisa ditembus tongkat ini mulai dari lubang telinga yang satu kelubang telinga yang lain, maka dahulunya dia mendengar nasehat dan pembicaraan haq. Tetapi keduanya masuk ke dalam satu telinga dan keluar dari telinga yang lain dan tidak menetap dalam otaknya serta tidak mau mengambil keduanya. Jadi tidak ada kebaikan pada kepala itu.

Sedang kepala yang tidak dapat ditembus tongkat sama sekali, maka dahulunya dia yang tidak mau mendengarkan nasehat dan pembicaraan haq karena sibuk dengan kemauan nafsu dan kesenangannya. Jadi tidak ada pula kebaikan pada kepala itu.

Adapun kepala yang hanya bisa ditembus tongkat itu sampai otaknya, maka dahulunya mau mengambil nasehat dan pembicaraan haq dan juga menetap di otaknya. Dialah yang diterima di sisi Allah. karena itulah aku menciumnya dan menguburkannya kembali.”