Melebur Dosa Dengan Taubat Yang Tulus

Setiap manusia yang sudah terlanjur berbuat kesalahan atau berbuat dosa kepada Allah, janganlah putus asa, karena Allah selalu menerima taubat hamba-Nya bila taubatnya tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha).

Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia akan menerima taubat hamba-Nya walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan. Banyak sekali keterangan yang menerangkan keutamaan taubat ini, seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

Taubat

Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 31, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.”

Sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa taubat seseorang dapat diketahui melalui 4 hal, yaitu:

  1. Dia akan memelihara lidahnya dari fudhul (tidak ada gunanya), pergunjingan, adu domba dan bohong.
  2. Dia tidak melihat kedengkian dalam hatinya atau permusuhan kepada seorang pun dari manusia ini.
  3. Memisahkan diri dari orang-orang jahat dan tidak berkawan dengan seorang dari mereka.
  4. Dia akan selalu bersiap diri menyambut kematian, menyesali dosa dan memohon ampun dari dosa yang pernah dikerjakannya serta bersungguh-sungguh dalam taat kepada Tuhannya.

Allah berfirman dalam surat At Tahrim ayat 8, “Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang nasuha.”

Yakni benar di dalam taubatnya. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah bernasihat atau menginginkan baik karena Allah dalam taubat itu.

Umar bi Khaththab ditanya mengenai taubat nasuha. Dia berkata, “yaitu kalau seseorang bertaubat dari perbuatan jahat dan tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah “Tuubuu illallaahi taubatan nashuuha”. Katanya, “Yaitu bertaubat yang bersungguh-sungguh dalam hati, memohon ampun dengan lidah dan bermaksud dalamhat untuk tidak mengulanginya lagi untuk selama-lamanya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Orang yang memohon ampun dengan lidahnya tetapi melangsungkan perbuatan dosa adalah seperti orang yang mengolok-olokkan Tuhannya.”

Dari Tsabit Al Bannani, dia berkata, “Sampai kepadaku bahwa Iblis alaihilla’nat telah menangis ketika turun ayat yang mulia ini.”

Sumber: Durrotun Nasihin