Kisah Wafatnya Nabi Muhammad

Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan penutup para Nabi. Walaupun demikian, Nabi Muhammad tetap saja merupakan seorang manusia dan akan meninggal dunia. Di bawah ini adalah kisah mengenai wafatnya Nabi Muhammad saw.

Allah menurunkan wahyu kepada malaikat maut, “Turunlah kepada kekasih-Ku dengan bentuk yang terbaik dan kasihilah dia dalam pencabutan ruhnya. Jika dia mengijinkan engkau maka masuklah. Tetapi jika dia tidak mengijinkan engkau maka kembalilah, jangan masuk.”

Maka turunlah malaikat maut dalam bentuk seorang Baduin dan berkatalah dia, “Assalaamu ‘alaikum ya ahla baitin Nubuwwah, wa ma dinir risaalah (keselamatan untuk kamu wahai penghuni rumah kenabian dan pusat kerasulan). Bolehkah aku masuk?” Fathimah menjawab, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.”

Kemudian malaikat maut berkata lagi, “Assalaamu ‘alaikum ya ahla baitin Nubuwwah, bolehkah aku masuk?” Nabi Muhammad mendengar suaranya dan berkata, “Hai Fathimah, siapakah yang berada di depan pintu?” Fathimah berkata, “Seorang laki-laki Badui, dia sedang memanggil-mangil. Lalu aku katakan, ‘Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri.’ Tetapi dia masih memanggil-manggil untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Aku tetap mengatakan seperti itu. Dipandangnya aku dengan pandangan yang menakutkan. Berkerutlah dahiku, takutlah hatiku dan bergetar seluruh persendianku, serta pucatlah aku.”

Nabi Muhammad bersabda, “Tahukah engkau hai Fathimah siapakah dia?” Fathimah menjawab, “Tidak.” Nabi Muhammad bersabda, “Dialah malaikat penghancur segala kelezatan, pemutus segala kesenangan, pemisah di antara kumpulan manusia, penyebab kekosongan segala rumah dan pembangun kubur.”

Maka menangislah Fathimah dengan tersedu-sedu dan berkata, “Aduh kecelakaanku karena kematian Nabi terakhir, aduh musibahku karena kematianku orang bertakwa yang terbaik dan karena berpisah dengan pemimpin orang-orang pilihan. Aduh kekecewaanku kaerna terhentinya wahyu dari langit. Benar-benar aku terhalang dari sabdamu mulai hari ini dan tidak pernah lagi aku mendengar salammu sesudah hari ini.”

Nabi Muhammad bersabda, “Janganlah engkau menangis. Karena sesungguhnya engkau adalah orang pertama di antara keluargaku yang bertemu dengan aku.”

Kemudian Nabi Muhammad bersabda, “Masuklah hai malaikat maut.” Maka masuklah dia dan berkata, “Assalaamu ‘alaika ya Rasulullah.” Nabi menjawab, “Wa ‘alaikas salaam, ya malaikat maut. Adakah engkau datang perlu berkunjung atau mencabut ruhku?”

Malaikat maut menjawab, “Aku datang perlu berkunjung dan juga mencabut ruh jika engkau mengijinkan, dan jika tidak maka aku akan kembali.” Nabi bersabda, “Dimanakah engkau tinggalkan Jibril? Hai malaikat maut?” malaikat maut menjawab, “Aku tinggalkan dia di langit dunia, dan para malaikat sedang bertakziah (menghibur padanya)”

Belum berselang satu jam malaikat maut disana, sehingga Jibril turun dan duduk di dekat kepala beliau. Bersabdalah beliau, “Apakah engkau telah mengetahui bahwa perkara kematian itu telah tiba?” Jibril menjawab, “Benar ya Rasulullah, aku telah mengetahuinya.”

Nabi Muhammad bersabda, “Berilah kabar gembira kepadaku, apa saja kemuliaan yang ada di sisi Allah untukku.” Jibril menjawab, “Sesungguhnya pintu-pintu langit telah dibuka dan para malaikat sedang berbaris menyambut ruhmu di langit. Pintu-pintu surga telah dibuka dan bidadari-bidadari seluruhnya telah berhias untuk menyambut ruhmu.” Nabi Muhammad bersabda, “Alhamdulillaah.” Kemudian bersabda lagi, “Berilah kabar gembira padaku hai Jibril, bagaimana keadaan ummat di hari kiamat?” Jibril menjawab, “Aku kabarkan berita gembira kepadamu bahwa Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengharamkan surga atas semua Nabi sehingga engkau memasukinya lebih dahulu. Dan Aku mengharamkan surga atas semua ummat sehingga ummatmu telah memasukinya lebih dahulu.”

Nabi Muhammad bersabda, “Sekarang hatiku telah puas dan hilanglah kesedihanku.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Hai malaikat maut, mendekatlah kepadaku.” Maka mendekatlah malaikat maut dan mulai melaksanakan pencabutan ruh. Ketika ruh itu sampai pada pusar beliau, beliau bersabda, “Ya Jibril, alangkah beratnya penderitaan kematian ini.”

Maka Jibril memalingkan wajahnya dari Nabi. Nabi Muhammad bersabda, “Ya Jibril, apakah engkau tidak suka memandang wajahku?” Jibril menjawab, “Ya kekasih Allah, siapakah yang sanggup memandang wajahmu saat-saat engkau dalam sakaratul maut.”

Anas bin Malik berkata bahwa ketika ruh Nabi Muhammad berada dalam dadanya, beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kamu supaya memelihara shalat lima waktu dan apa yang kamu miliki.” Lalu tidak henti-hentinya beliau mewasiatkan keduanya sehingga terhenti sabdanya.

Ali berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah pada akhir nafasnya adalah menggerak-gerakkan kedua bibirnya dua kali. Ali mendekatkan pendengarannya dan dia mendengar Nabi bersabda dengan samar-samar, “Ummatku, ummatku.” Lalu wafatlah Nabi Muhammad pada hari senin bulan Rabi’ul Awwal.

Diriwayatkan bahwa Ali telah meletakkan Rasulullah di atas tempat tidur untuk memandikan beliau. Tiba-tiba ada suara hatif yang bersuara dari sudut rumah dengan suara yang keras sekali.

Suara itu mengatakan, “Janganlah engkau mandikan Muhammad, karena dia adalah suci dan disucikan.” Maka terpengaruhlah hatiku karena suara itu. Ali berkata, “Siapakah engkau ini? Sedang Nabi telah memerintahkan aku untuk memandikan.”

Tiba-tiba datang suara hatif yang lain dan berseru, “Hai Ali, mandikanlah dia. Karena hatif pertama adalah Iblis ‘alaihil la’nat karena dengki pada Muhammad, dan dia ingin agar Muhammad masuk kuburnya dalam keadaan tidak dimandikan.”

Ali berkata, “Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan padamu, karena engkau telah memberitahukan bahwa itu adalah Iblis ‘alaihil la’nat. Tetapi siapakah engkau ini?” hatif itu berkata, “Aku adalah Nabi Khidir, aku menghadiri jenazah Nabi Muhammad.”

Maka Ali memandikannya dan Al Fadhail bin Abbas menuangkan airnya dan dibantu oleh Usamah bin Zaid. Jibril datang membawa kayu cendana dari surga. Mereka lalu mengkafankan beliau dan menguburkannya di kamar Aisyah pada malam rabu tengah malam. Ada yang mengatakan, “Malam selasa’ sedang Aisyah berdiri di kubur Nabi Muhammad seraya berkata:

“Wahai orang yang tidak pernah memakai pakaian sutera, dan tidak pernah tidur di atas kasur empuk. Wahai orang yang keluar dari dunia sedang perutnya tidak pernah kenyang dengan roti gandum. Wahai orang yang memilih tikar dari pada ranjang. Dan wahai orang yang tidak pernah tidur sepanjang malam karena takut neraka Sya’ir.

 

Sumber: Durrotun Nasihin