Cinta kepada Allah

Setiap manusia haruslah mencintai Allah, mencintai-Nya melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, kepada keluarga, sahabat, dan materi. Allah lah yang menciptakan manusia, dunia dan segala isinya.

Bila seseorang mencintai Allah, maka dia akan rela melakukan segala sesuatu untuk yang dicintainya (Allah). Dengan demikian dia akan selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dikisahkan bahwa Samnun telah mengawini seorang perempuan di akhir umurnya dan perempuan itu melahirkan seorang anak perempuan. Ketika anak itu berusia tiga tahun dia sangat menyayangi anaknya.

Dia bermimpi dalam tidurnya seakan-akan kiamat telah tiba. Bendera-bendera smeua Nabi dan Wali telah dipasang dan di belakang mereka terdapat sebuah bendera yang tinggi dan cahayanya memenuhi angkasa. Dia bertanya mengenai bendera itu dan dijawab banhwa bendera itu adalah bendera orang-orang yang cinta kepada Allah ang murni.

Samnun melihat bahwa dirinya berada di antara mereka. Tetapi datanglah malaikat dan mengeluarkannya dari rombingan itu. Samnun berkata, “Aku adalah orang cinta keoada Allah, sedang ini adalah bendera orang-orang yang cinta kepada Allah, lalu mengapa engkau mengeluarkan aku?”

Malaikat itu menjawab, “Ya, engkau memang termasuk orang-orang yang cinta kepada Allah. tetapi setelah kecintaanmu kepada anakmu bercokol di hatimu maka kami menghapus namamu dari orang-orang yang cinta kepada Allah.”

Maka menangislah Samnus dan berdoa dalam tidurnya serta berkata, “Ya Tuhanku, jika anak itu merupakan penghalang bagiku dari-Mu, hindarkanlah dia daripadaku, agar aku dapat dekat dengan-Mu berkat belas kasih-Mu dan kemurahan-Mu.”

Allah

Seketika itu dia mendengar suara berteriak, “Aduh celaka”, terbangunlah dia dan bertanya, “Ada apa teriakan itu?” Orang-orang berkata, “Anak perempuanmu terjatuh dari rumah atas, dan meninggallah dia.”

Samnun berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyingkirkan penghalang dari diriku.”

Dikisahkan juga bahwa pada dahulu kala Sa’dun Al Majnun menulis lafadh “Allah” pada telapak tangannya. Kemudian Saris Saqthi bertanya kepadanya, “Apa yang engkau perbuat itu, hai Sa’dun?” Dia menjawab, “Aku mencintai Allah dan aku telah menulis Asma Tuhanku di hatiku, sehingga yang lain tidak dapat bertempat disana. Akupun telah menulisnya pada lidahku sehingga dia tidak akan menyebut yang lain. dan sekarang aku menulisnya pada telapak tanganku agar aku dapat melihatnya dengan kedua mataku, sehingga pandanganku hanya tenggelam padanya.”