Shalat Untuk Orang Sakit

Shalat merupakan suatu perkara yang merupakan kewajiba bagi setiap orang mukallaf. Tidak boleh ditinggalkan dengan sebab apapun, termasuk dalam keadaan sakit, selama akal fikiran masih sadar. Jika tidak dapat berdiri, boleh dikerjakan sambil duduk. Cara mengerjakan ruku’ dengan membungkukkan punggungnya sedikit, sedangkan sujudnya seperti sujud biasa.

Apabila terpaksa tidak dapat duduk, boleh dikerjakan dengan cara berbaring, muka dan kedua tapak kakinya ditujukan ke arah kiblat. Ruku’ dan sujudnya dengan cara mengnagkat kepala sedikit ke atas.

Jika sudah sakit keras, dan tidak dapat mengerjakan seperti tersebut di atas, maka cukup dengan isyarat saja (kepala atau mata). Jika semua tidak mungkin, boleh dikerjakan dalam hati, selama masih ada kesadaran.

Prinsip shalat wajib tidak boleh ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan syara’. Kesibukan, sakit, keadaan dan sebagainya tidak menghilangkan kewajiban ini. Halangan syara’ hanya pada wanita yang sedang haid, nifas dan sebagainya.

Orang yang dibenarkan meninggalkan shalat tetapi wajib qadha

Sedangkan keadaan apapun tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat. Yang dibenarkan meninggalkan shalat, tetapi harus menunaikan di lain waktu ialah 3 macam, yaitu:

  1. Orang yang tertidur, sampai waktu shalat habis. Misalnya tidur sudah terlalu malam, bangun pagi dan sudah terbit matahari, tetapi waktu subuh benar-benar belum terbangun. Kapan saja ia terbangun saat itulah mengerjakan shalat subuh.
  2. Orang yang lupa. Pada suatu saat benar-benar seseorang lupa, misalnya tidak shalat ashar. Ketika akan shalat maghrib baru teringat, maka saat itulah ia shalat ashar dahulu baru maghrib.
  3. Orang yang mabuk dan pingsan. Apabila mabuknya, pingsannya sejak jam 06.00 sampai jam 24.00. maka setelah sadar ia lakukan shalat dhuhur, ashar, maghrib dan isya secara beruntun.