Ridha terhadap Allah

Kita harus ridha terhadap segala ketentuan dari Allah, ridha terhadap apapun yang terjadi terhadap kita selama hidup di dunia, dan meyakini bahwa semua sudah ada qadha dan qadarnya.

Ridha merupakan derajat kesabaran yang tertinggi, sebab orang ridha berarti dia bersabar dan tidak sebaliknya.

Syaqiq bin Ibrahim berkata, “Saya pernah bertanya kepada tujuh ratus orang alim tentang lima hal, mereka semuanya menjawab dengan satu jawaban.

‘Siapa orang yang berakal itu?’ jawabnya, ‘yaitu orang yang ridha terhadap apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.’

‘Siapakah orang yang cerdik itu?’ jawabnya, ‘yaitu orang yang mana dunia tidak akan membahayakannya.’

‘Siapakah orang yang faqir itu?’ jawabnya, ‘yaitu orang yang hatinya disertai mencari dunia.’

‘Siapakah orang yang bakhil itu?’ jawabnya, ‘yaitu orang yang menahan hak Allah Ta’ala dari hartanya.”

Allah membenci seorang hamba dalam tiga perkara:

  1. Mempermainkan perintah Allah.
  2. Tidak ridha terhadap apa yang diberikan Allah.
  3. Dia mencari sesuatu tidak berhasil, lalu marah-marah kepada Tuhannya.

Sementara hukama mengemukakan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 38, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.”

Para fuqaha mengatakan bahwa siapa saja yang mencuri mencapai satu nishab (barang yang dicuri senilai seperempat dinar emas atau lebih, 1 dinar = 13,44 gram emas) maka terkena hukuman dipotong tangannya. Ukuran senisab ini bukanlah karena larangan sehingga tangan seorang lelaki mukmin harus dipotong. Tetapi dia dipotong tangannya karena dua pengertian, pertama untuk melindungi kehormatan kaum muslimin. Kedua, karena dia tidak rela terhadp pemberian Allah padanya, dan ingin memiliki harta orang lain. maka Allah menyuruh untuk memotong tangannya sebagai pembalasan bagi apa yang telah diperbuatnya agar menjadi pelajaran bagi yang lain, supaya dia ridha terhadap pemberian Allah kepadanya. Sebab ridha terhadap pemberian Allah merupakan akhlak para nabi dan orang-orang shalih.