Iman Kepada Takdir Allah

Sesungguhnya Allah menciptakan para makhluk untuk taat dan melarang berbuat jahat. Lalu menciptakan Lauh, yaitu papan dari intan putih panjangnya antara langit dan bumi. Lebarnya antara arah timur dan barat. Bingkainya terbuat dari berlian dan yaqut. Kedua sampulnya berupa yakut merah. Pangkalnya berada di tempat malaikat yang berada di angkasa di atas langit.

Di dalam hadis disebutkan:

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya pengantar tulisan pada Lauh Mahfudh adalah: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa, islam agama-Nya, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan membenarkan ancaman-Nya serta mengikuti Rasul-Nya akan dimasukkan surga.”

Allah menciptakan Qalam dari nur atau cahaya. Panjangnya antara langit dan bumi. Disebutkan dalam hadis Nabi saw dijelaskan:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Qalam, lalu Allah mengatakan, ‘Menulislah! Qalam menjawab: “apa yang saya tulis?’ Allah berfirman, ‘segala yang ada dan yang akan ada hingga hari kiamat, yaitu: amal, ajal, rizki, dan kejelekan.” Lalu Qalam berjalan sendiri menulis apa saja yang akan ada hingga hari kiamat.

Imam Mujahid meriwayatkan hadis: “Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah Ta’ala adalah Qalam.” Allah berfirman, “Wahai Qalam, engkau menulis apa yang Aku tentukan.” Maka Qalam menuliskan apa yang akan wujud hingga hari kiamat. Apa saja yang berlaku pada manusia juga berlaku pada ketetapan yang telah diselesaikan.

Allah berfirman dalam surat Al Qamar ayat 49:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Maksudnya Allah menciptakan segala sesuatu baik itu makhluk besar maupun kecil dengan ketentuan dan ketetapan hukum serta ukuran yang dibatasi, bagian yang dibatasi, kekuatan yang sempurna dan mengatur secara rapi pada waktu yang ditentukan dan tempat yang dibatasi. Semuanya itu ditetapkan pada Lauh Mahfudh.

Allah berfirman dalam surat Al Qamar ayat 53:

“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”

Maksudnya, segala urusan makhluk yang besar dan kecil beserta amalnya dan ajalnya telah tertulis pada Lauh (papan) yang terjaga dari setan, dari penambahan dan pengurangan.

Nabi saw bersabda:

“Allah telah menetapkan ketentuan para makhluk semuanya sebelum menciptakan langit dan bumi terpaut lima puluh ribu tahun.”

Nabi bersabda:

“Seorang hamba tidak sempurna imannya sehingga ia beriman kepada 4 perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku diutus Allah untuk seluruh makhluk, beriman kepada ketentuan yang baik dan buruk.”

Taat kepada Allah adalah perbuatan yang berpahala karena ada ketetapan dari Allah dan ketentuan pada zaman azali, yaitu sebelum Allah menciptakan makhluk. Ketaatan juga dikehendaki Allah dan perbuatan yang diperintahkan, diridhai, dan dicintai Allah.

Menurut sebagian ulama, bahwa yang disebut qadha adalah kehendak Allah sejak zaman azali yang berhubungan dengan seluruh perkara yang ada. Sedangkan qadar adalah perwujudan kehendak Allah dari semua makhluk sesuai ilmu Allah. maka qadha itu ibarat pondasi, dan qadar ialah bangunan. Qadha ibarat alat takar, sedangkan qadar ibarat barang yang ditakar. Qadha ibarat pakaian, sedangkan qadar ibarat memakai pakaian. Qadha ibarat gambar tukang ukur yang ada pada pikirannya, sedangkan qadar ibarat ukirannya.

Maksiat adalah perbuatan yang disiksa dengan ketetapan Allah, ketentuan-Nya, kehendak-Nya sejak zaman azali, tidak dengan perintah-Nya, tidak diridhai, tidak dicintai dan tidak dari pertolongan Allah.

Arti ridha ialah menerima suatu perkara dan memberi pahala atau meninggalkan menyiksa. Adapun perkara yang diperbolehkan itu tidak diperintahkan oleh Allah. jadi segala perkara yang diketahui Allah bakal terjadi itu Allah menghendaki terjadinya. Baik Allah memerintahkan maupun tidak.

Orang kafir itu diperintahkan beramal sebagaimana ia diperintahkan beriman. Demikian menurut pendapat ulama madzhab Syafi’i. Berbeda dengan Imam Hanafi yang mengatakan, “Orang kafir itu tidak diperintahkan untuk beramal, tetapi ia diperintahkan untuk beriman.” Dasarnya ialah firman Allah dalam surat An Nisa ayat 1:

“Hai manusia, bertakwalah (takutlah) kepada Tuhanmu.”

Menurut tafsir Hanafi makna “Hai manusia”, bertakwalah takutlah kepada Tuhanmu (Allah)” ialah: hai orang-orang yang beriman tatlah; hai orang-orang kafir, berimanlah; hai orang-orang munafik, ikhlaslah! Karena manusia itu ada 3 macam:

  1. Orang mukmin yang murni imannya, yaitu orang yang menyatakan dengan lisannya, membenarkan dalam hatinya dan melakukan amal perbuatan dengan anggota tubuhnya.
  2. Orang kafir yang kejam pada kekufurannya, yaitu orang yang tidak mau mengakui dengan lisannya dan tidak mempercayai dalam hatinya.
  3. Orang munafik yang menghias kemunafikannya, yaitu orang yang mengakui dalam lisannya dan tidak membenarkan dalam hatinya, serta berpura-pura beserta orang mukmin.

Semua manusia diberio pahala karena ketaatannya, dan disiksa karena maksiatnya. Semua pahala dan siksa itu dengan janji dan ancaman Allah. janji Allah untuk ketaatan dan ancaman Allah untuk maksiat.

Allah berfirman dalam surat An Nazi’at ayat 37-41:

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada dkebesaran Tuhannya dan menahan diri dari kepentingan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”