Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah merupakan sebuah hal utama dalam keimanan, karena merupakan salah satu dari rukun iman.

Allah itu adalah Esa, Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Bicara, Maha Kekal, Maha Mencipta, Maha Memberi Rizki, Dia adalah Tuhan dan penguasa tanpa sekutu dan tanpa ada penentang.

Allah Maha Esa

Maksudnya ialah Allah itu adalah satu atau tunggal sifat-sifat-Nya tidak ada yang menyekutukan-Nya. Juga Esa Zat-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.

Allah Maha Hidup (Hayyun)

Artinya Dia Tuhan yang hidup, dengan kehidupan yang terdahulu dan Zat-Nya berdiri sendiri tanpa ruh.

Allah Maha Mengetahui (‘Aalimun)

Artinya Allah itu Tuhan yang Mengetahui dengan pengetahuan yang qadim yang berdiri sendiri dengan Zat-Nya meliputi segala perkara yang wajib, jaiz, dan mustahil adanya.

Allah Maha Kuasa (Qaadir)

Artinya Allah bersifat Maha Kuasa dengan kekuasaan yang qadim dan berdiri sendiri dengan Zat-Nya tanpa usaha dan perantara. Berkuasa yang tak kunjung lemah. Berkuasa meliputi hubungan segala perkara yang mungkin wujudnya.

Allah Maha Berkehendak (Muriid)

Artinya Allah Berkehendak terhadap apa saja dengan kehendak yang terdahulu dan yang berdiri sendiri tetap pada Zat-Nya.

Allah Maha Mendengar (Samii’)

Artinya Allah Tuhan Yang Maha Mendengar, meskipun mendengar segala macam perkara yang didengar pendengaran yang qadim yang tetap dengan Zat-Nya.

Allah Maha Melihat (Bashiir)

Artinya Allah melihat segala sesuatu perkara yang terlihat dikala wujudnya perkara yang dilihat itu dengan penglihatan yang qadim yang tetap dengan Zat-Nya.

Allah Maha Berkata (Mutakallim)

Artinya Allah Maha Berbicara dengan Pembicaraan yang qadim lagi kekal yang berdiri sendiri dengan Zat-Nya. Pembicaraan Allah tanpa huruf dan tanpa suara. Jadi ucapan Allah tidak diketahui sifat tidak ada dan tidak kedatangan sifat tidak ada. Pembicaraan Allah itu ada yang berhubungan dengan perkara yang wajib wujudnya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Thaha ayat 14:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku….”

Kalam Allah berhubungan dengan perkara yang mustahil wujudnya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 73:

“Sesungguhnya kafirlah orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga.”

Dan yang berhubungan dengan perkara yang jaiz, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash Shaffat ayat 96:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

Menurut pendapat yang benar, arti lafadh Al Qur’an yang kita baca adalah perkara yang menjadi hubungan dengan perkataan Allah yang qadim. Demikian sebagaimana pendapat Ibnu Qasim yang telah disepakati oleh seluruh ulama mutaakhirin.

Apabila kita ditanya apakah Al Qur’an itu “Qadim” atau “Hadits”, maka kita perlu menanykan dulu kepada orang yang bertanya apa yang dimaksud Al Qur’an itu? Jika si penannya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Kalam Qadim yang tetap pada Zat Allah yang kita baca, maka Al Qur’an itu qadim. Karena sifat terdahulunya Zat, dimana Al Qur’an itu Kalam Allam yang menjadi salah satu sifat dari sifat yang wajib menjadi sifatnya Zat (Allah). tetapi jika si penanya mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah apa yang berada di antara sampul dua tangkuban yaitu tulisan yang ada di kertas, maka kita jawab bahwa Al Qur’an itu hadits (baru). Tetapi jika yang dimaksudkan maknanya, maka kita jawab bahwa lafadh yang menunjukkan kepada Zat Allah, atau sifat Allah, atau cerita tentang Allah, itu semuanya adalah qadim (dahulu). Dan lafadh yang menunjukkan kepada perkara yang baru (ciptaan Allah) atau sifat perkara yang baru seperti Zat atau sifat makhluk, seperti kebodohan kita dan kepandaian kita, itu semua adalah baru. Demikian pula cerita-cerita perkara yang baru.

Perkataan-perkataan itu dinamakan Kalam Allah karena mengandun arti perkatan Allah, yang bisanya dipahami hanya apabila dikatakan. Jika  dikatakan dengan bahasa Arab disebut Al Qur’an, jika dengan bahasa Ibrani yaitu bahasa orang Yahudi disebut Taurat, apabila dengan bahasa Suryani disebut Injil dan Zabur.

Perbedaan perkataan itu tidak memastikan perbedaan ucapan. Sebagaimana Allah Pencipta langit dan bumi, ini dapat dikatakan dengan berbagai macam perkataan. Sedangkan Zat Allah Ta’ala adalah Esa.

Allah Maha Kekal (Baaqin)

Artinya Allah itu Maha Kekal dengan Zat-Nya yang Maha Luhur, maksudnya kekal wujudnya dan tidak menerima kerusakan.

Allah Maha Pencipta (Khallaaq)

Artinya Allah itu banyak sekali, artinya Allah itu banyak sekali menciptakan berbagai macam makhluk dengan kekuasaan-Nya. Dia terus menerus menentukan apa saja yang ditentukan dengan kehendak-Nya.

Allah Maha Pemberi Rizki (Razzaq)

Artinya Allah lah yang menciptakan makhluk dan terus-menerus memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya.

Sebutan rizki itu tidak tertentu pada makanan atau minuman saja. Tetapi segala apa saja yang memberikan manfaat bagi binatang. Baik berupa makanan, minuman, bahkan pakaian dan lainnya. di antara rizki yang terbesar adalah pertolongan Allah untuk melakukan ketaatan.

Rizki itu ada dua macam, yaitu rizki lahi seperti bahan kekuatan dan makanan untuk keperluan tubuh. Yang kedua yaitu rizki batin, yaitu macam-macam makrifat dan mukasyafah. Rizki batin ini untuk keperluan hati dan segala yang rahasia. Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala mendatangkan rizki kepada seluruh makhluk-Nya. Di antara sebab-sebab yang menjadikan luasnya rizki adalah dengan memperbanyak melakukan shalat, berdasarkan firman Allah dalam surat Thaha ayat 132:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Kemudian hendaknya memperbanyak membaca shalawat Nabi dan Istighfar. Allah Zat yang Merajai dan disembah, seperti lafadh Rabbunallah (Tuhan kami adalah Allah). allah Tuhan yang menguasai, seperti firman Allah Lillaahi mulkus samaawaati wal ardhi (Milik Allah lah kerajaan langit dan bumi). Tidak ada yang menyekutukan Allah dalam ke Tuhanan-Nya. Tidak ada yang menyamai dan tiada yang serupa dan persis. Bedanya “menyamai” dan “serupa” serta “persis”, kalau menyamai adalah kesamaan sekalipun dalam satu sifat. Kalau serupa artinya ada yang sama dari sebagian sifat-sifatnya, sedangkan persis yaitu perkara yang menyamai dalam seluruh sifat-sifatnya.

Siapa yang meninggalkan empat kalimat maka sempurnalah imannya. Yaitu dimana, bagaimana, kapana, dan berapa?

Apabila ada yang bertanya, “Dimana Allah? jawablah, “Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh masa.”

Apabila ditanya, “Bagaimana sifat Allah?” jawablah, “Tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya.”

Apabila ditanya, “Kapan adanya Allah?” jawablah, “Pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan.”

Apabila ditanya, “Berapakah Allah?” jawablah, “Satu tidak dari sedikit, Dia lah Allah Maha Esa.”

Katakanlah, “Dia adalah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun yang setara dengan-Nya.” (Al Ikhlas)