Shalat Jum’at

Hukum shalat jumat itu adala fardhu ‘ain bagi setiap orang islam laki-laki baligh yang berakal, merdeka dan mukim bukan musafir serta tidak ada halangan syar’i, seperti sakit yang payah, juga seperti kepayahan orang yang berjalan dalam keadaan hujan yang membasahi pakaiannya. Maka tidak wajib shalat jum’at atas orang kafir, anak kecil, orang gila, perempuan, banci, musafir, dan orang yang ada halangan dengan prioritas meninggalkan jama’ah seperti angin malam dan halangan kesibukan menyegerakan menyelenggarakan mayit.

Syarat sah shalat jumat

  1. Membaca dua khutbah sebelum shalat.
  2. Dilaksanakan dalam wajtu dzuhur.
  3. Dilaksanakan di batas negaranya atau tempat yang tidak diperbolehkan shalat qashar.
  4. Dilaksanakan dengan berjamaah.
  5. Sedikitnya dilakukan oleh 40 orang sekalipun termasuk imam.
  6. Tidak bersamaan dan tidak didahului shalat jumat yang lain dalam satu desa pada akhir takbiratul ihramnya imam jika tidak ada hajat. Seperti karena berdesak-desakan atau permusuhan atau jauhnya jarak negeri (desa).

Rukun dua khutbah

  1. Membaca hamdalah (memuju kepada Allah), berdasarkan hadis Nabi, “Adalah khutbah Nabi Saw pada hari jum’at beliau memuji kepada Allah dan menyanjung kepada-Nya.”
  2. Membaca shalawat atas Nabi Saw. Sebab semua ibadah memerlukan mengingat kepada Allah dan Nabi-Nya, seperti azan dan shalat.
  3. Menyampaikan wasiat takwa kepada Allah. sebab tujuan dari khutbah tidak cukup memberikan peringatan untuk menghindari keduniaan, tapi juga harus memperingatkan untuk melaksanakan ketaatan dan melarang kemaksiatan.

Tiga rukun tersebut masuk dalam setiap satu dari dua khutbah, sebab setiap khutbah itu terpisah dari yang lain.

  1. Membaca ayat Al Qur’an. Membaca ayat Al Qur’an dalam salah satu dua khutbah, berupa satu ayat yang memahami sekalipun pendek, yang berhubungan dengan materi khutbah, baik yang berhubungan dengan hukum maupun kisah. Maka tidak cukup hanya dengan membaca sebagian ayat sekalipun panjang. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Saw, “Adalah Nabi Saw membaca surat Qaf dalam setiap jum’at di atas mimbar.” Dan juga, “Dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin Mu’man, ia berkata, ‘Saya tidak menghafal Qaaf, wal qur’aanil majid,’ melainkan dari lidah Rasulullah Saw sendiri ketika beliau mmebacanya setiap jum’at di atas mimbar apabila berkhutbah.”
  2. Mendoakan untuk orang-orang mukmin pada khutbah akhir (yang kedua), doa ukhrawi khusus maupun umum. Yang khusus doa ini ditujukan kepada yang hadir saja, sedangkan yang umum mukminin mukminat, muslimin dan muslimat.

Syarat-syarat khutbah

  1. Khutbah dilakukan dengan berdiri tidak duduk jika kuasa, juga tidak boleh dengan duduk atau berbaring seperti shalat. Demikian disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Jawad, beliau juga mengemukakan hadis Nabi dalam Bulughl Maram yang diriwayatkan Jabir bin Samurah radhiyallaahu ‘anhu, “Bahwasanya Nabi Saw berkhutbah sambil berdiri, lalu duduk kemudian berkhutbah sambil berdiri, maka barang siapa yang memberitahu kepadamu bahwa Nabi Saw berkhutbah sambil duduk adalah dusta.”
  2. Khatib hendaklah dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar, dan najis yang ringan, berat ataupun sedang.
  3. Khatib hendaknya menutup auratnya, berdasarkan amal Rasulullah Saw bahwa beliau berkhutbah dalam keadaan suci dan tertutup auratnya.
  4. Wajib duduk di antara dua khutbah. Sekurang-kurangnya berhenti sebentar sekedar tumakninah shalat.Imam Ar Ramli dan Ahmad Az Zahid mengatakan tumakninah dalam duduk itu wajib, kalau ditinggalkan maka harus mengulang duduk itu dengan tumakninah.
  5. Hendaklah berturut-turut, baik rukunnya maupun jarak keduanya, maupun di antara keduanya dengan shalat dengan tidak terpisah lama.
  6. Kedua khutbah dilakukan setelah tergelincir matahari.
  7. Rukun-rukun dua khutbah harus dibaca dengan bahasa Arab.
  8. Dengan suara keras yang dapat terdengar oleh bilangan orang yang sah berjamaah.