Pokok-pokok Keimanan

Hakikat iman menurut syara’ ialah membenarkan terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad dari Allah, yaitu sebagaimana sabdanya, “Hendaknya kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dna beriman kepada ketentuan Allah yang baik maupun yang buruk.”

Pokok-pokok keimanan yang enam itulah yang disebut rukun iman, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada para malaikat Allah.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah.
  4. Beriman kepada para utusan Allah.
  5. Beriman kepada hari akhir.
  6. Beriman kepada qadar baik dan buruk.

Beriman kepada Allah, maksudnya ialah mengi’tikadkan bahwa Allah itu ada. Wujud Allah tanpa berawal dan tidak berakhir. Bukti adanya Allah adalah adanya alam semesta ini. Jika Allah tidak ada niscaya alam ini tidak mungkin ada, demikian pula segala makhluk pun tak mungkin ada.

Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 10, “Adakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kami….”

Dengan demikian maka Allah mengutus para nabi, mereka semuanya berdakwah kepada para manusia untuk bertauhid, agar manusia mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dengan mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Manusia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya sebagai tuhan atau mempercayai alam sebagai tuhan. Sebab hal ini bertentangan dengan fitrah dan tabi’at akalnya. Karena itu Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 25:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’.”

Dan di dalam surat Az Zukhruf ayat 87, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah.”

Sesungguhnya Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan-Nya, dan tidak ada yang sama serta serupa dengan Zat-Nya dan sifat-Nya maupun perbuatan-Nya.

Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang pemuda yang nampak tanda-tanda ahli ibadah datang kepada Imam Ghazali. Maka Imam Ghazali bertanya kepadanya, “Hai pemuda, apakah anda mengenal Allah?”

Pemuda itu menjawab, “Adakah orang menyembah-Nya sedangkan ia belum mengenal-Nya?”

Al Ghazali bertanya, “Bagaimana cara anda mengenal-Nya?”

Pemuda: “Kami meng-Esakan-Nya dan tidak menemui-Nya, kami menyembah-Nya tapi kami belum mengetahui bagaimana Allah itu. Setiap apa yang terbayang dalam hayal atau nampak dalam pemahaman, maka Allah berbeda dengan hal itu.”

Al Ghazali: “Sepanjang hidupku aku habiskan untuk meng-Esakan Allah. Allah tidak sama dengan makhluk, tidak ada sesuatu pun yang menyamai atau menyerupai-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Allah menciptakan langit dan bumi. Disebutkan langit dan bumi karena keduanya merupakan makhluk terbesar bagi orang yang memandangnya. Dia menciptakan kematian di dunia, dan kehidupan di dunia dan akhirat. Allah juga menciptakan ketaatan, yaitu persesuaian perbuatan manusia dengan perintah syara’. Dan kedurhakaan, yaitu pertentangan perbuatan manusia dengan perintah syara’.

Allah lah yang memberikan kesehatan fisik sebagai kenikmatan yang terendah. Adapun kenikmatan terbesar adalah agama islam. Allah juga menciptakan sakit dari semua yang ada sekarang ini, serta seluruh keadaan yang maujud dari alam adalah selain Allah Ta’ala. Dia lah Pencipta sifat-sifat yang ada di alam dan menciptakan makhluk, seperti manusia, jin, para malaikat dan yang lain beserta amal perbuatan mereka di dunia.

Allah berfirman dalam surat Ash Shaffat ayat 96, “Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”

Allah telah menentukan rizki pada makhluk dan ajal mereka. Ada yang diberi rizki sedikit atau banyak, dan ada yang diberi umur pendek atau panjang. Rizki-rizki dan ajal-ajal itu tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang dari ketentuan Allah Ta’ala. Jika kematian seseorang telah ditentukan di suatu bumi, maka dia tidak akan menemui kematiannya di bumi lain. dan sesuatu yang tidak akan terjadi melainkan dengan kehendak dan ketentuan Allah.

Allah telah berfirman dalam surat Al Qamar ayat 49, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Di dalam hadis juga disebutkan:

Segala sesuatu itu telah ditentukan hingga kelemahan dan kecerdikan.