Pengertian As Shirath dan Mizan

As Shirath

As Shirat merupakan jembatan yang melintang di atas neraka menuju surga.

Menurut Imam Nashr bin Muhammad As Samarqandi di dalam Tanbihul Ghafilin, dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya ia berkata, “Seluruh manusia akan melintasi As Shirath, mereka maju mundur berdiri di sekitar neraka, kemudian mereka berjalan di atas As Shirath sesuai amal-amal perbuatan mereka. Diantara mereka ada yang dapat berjalan seperti kilat, ada yang lewat secepat angin, dan ada juga yang lewat seperti burung terbang. Diantara mereka ada yang lewat seperti kuda pacuan dan ada yang seperti onta yang cepat, bahkan ada yang lewat dengan merangkak. As Shirath itu sangat licin dan dapat menggelincirkan, isa sangat tajam setajam pedang. Ada yang mengatakan bahwa As Shirath itu lebih tajam daripada pedang dan lebih lembut daripada rambut. Pada As Shirath terdapat duri seperti duri pohon berduri yang sangat tajam, dan para malaikat berada di tepinya. Maka diantara yang lewat ada yang selamat dan ada yang tercakar dan terjerumus di neraka. Sedangkan para malaikat sama memohon, “Hai Tuhan, selamatkan, selamatkan.”

Mizan

Mizan, yaitu timbangan amal pada hari kiamat. Timbangan ini mempunyai mulut dua daun. Sifatnya seperti besarnya permukaan langit dan bumi. Seluruh amal perbuatan akan ditimbang padanya dengan kekuasaan Allah Ta’ala.

Pada hari itu amal seberat debu maupun sebesar biji sawipun akan masuk timbangan untuk menyempurnakan keadilan yang hakiki. Lalu lembaran amal-amal kebaikan didatangkan disitu dalam bentuk yang baik dalam daun neraca bercahaya. Dengan amal kebaikan itu maka dapat memberatkan timbangan sesuai derajatnya menurut Allah dengan karunia-Nya.

Kemudian lembaran perihal kejahatan juga didatangkan pada daun timbangan yang gelap. Maka timbangan amal itu menjadi ringan dengan keadilan Allah Ta’ala.

Timbangan amal benar-benar akan ditegakkan pada hari kiamat sebagai keadilan Allah yang hakiki, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Anbiya ayat 47:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.”