Menjaga dan Memelihara Hati

Setiap orang harus menjaga, memelihara dan membersihkan hatinya, yaitu menyatukan hati kepada Allah dan menganggap hina selain-Nya, yang manifestasinya akan embali kepada perbuatan hati dan anggota tubuh.

Oleh karena itu kita harus belajar ilmu tasawuf, agar ahli fiqih mensucikan hatinya dan membersihkan kotoran-kotorannya agar dapat berjumpa menghadap Allah dengan hati yang selamat. Karena siapa saja yang belajar ilmu fiqih tanpa tasawuf ia benar-benar telah fasik, siapa bertasawuf tanpa fiqih ia benar-benar zindiq, dan siapa bertasawuf dengan fiqih maka benarlah dia.

Setiap muslim wajib memelihara hati dari perbuatan-perbuatan maksiat. Nabi Saw bersabda:

“Ingatlah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”

Dialah daging sanubari, yang lunak di sebelah kiri dada dan di dalamnya bergantunglah ruh, dia bagaikan raja dan tubuh bagaikan negara, sedangkan indera seperti tentara dan para pembantu (menteri)nya, anggota tubuh seperti rakyatnya sedangkan nafsu amarah yang mendorong pada syahwat dan kemarahan bagaikan musuh yang merebut dalam kerajaannya dan berusaha menghancurkan rakyatnya. Jika hati itu dapat melawan menguasainya maka menjadi leluasa (lapang) di dunia dan akhirat dan menjadi baiklah para pembantu dan rakyatnya. Jika ia tidak dapat melawannya maka menjadi rusaklah para pembantu dan rakyatnya, dimana Allah membalas siksa daripadanya, lalu para malaikat menangisinya. Dmeikian faidah yang dikemukakan As Suhaimi dalam Lubabut Thalibin.

Demikian juga fardhu ‘ain hukumnya bagi setiap muslim menjaga seluruh anggota tubuh, khususnya tujuh anggota nanti. Sebab semua anggota tubuh itu akan menjadi saksi padanya di persidangan hari kiamat dengan lidah yang lepas dan lancar, sedangkan Allah akan membuka perbuatan yang telah dilakukan manusia.

Allah berfirman dalam surat An Nur ayat 24, “Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Dan di dalam surat Yaa Siin ayat 65, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”