Khusyu’ ketika shalat

Dalam shalat hendaknya benar-benar konsentrasi, yaitu menghadirkan hatinya kepada Allah, karena hal itu merupakan ruh shalat.

Nabi Saw bersabda, “Siapa yang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan kemunkaran, maka tidak bertambah melainkan menjauh dari Allah.”

Imam Ghazali mengatakan, “Shalat orang yang lalai tidak dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran.”

Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwasanya dia berkata, “Shalat yang tidak dapat menghadirkan hati maka ia lebih cepat pada siksa.”

Kehadiran hati dalam shalat itu hendaknya ia mengetahui apa yang diucapkan dan diperbuat. Disebutkan dalam hadis yang dikemukakan Imam Ibnu Hajar, “Shalat seorang mukmin tidak dianggap kecuali yang dipahami.”

Shalat itu hendaknya dilakukan dengan khusyu’, karena kekhusyu’an itu merupakan rahasia shalat. Yaitu tenangnya seluruh anggota dengan tidak memainkan salah satunya dan dengan menghadirkan hati. Kekhusyu’an itu juga dengan menghadirkan hati mengingat akhirat, dan agar kekhusyu’an dapat tercapai maka ia harus menghadirkan hatinya bahwa ia sedang berada di hadapan Tuhan Yan Merajai seluruh kerajaan, Mengetahui yang rahasia dan yang samar. Faidah ini dikemukakan Ibnu Hajar dalam Tuhfah.

Dalam shalat hendaknya juga memperhatikan bacaan dan merenungkan maknanya secara garis besar serta memperhatikan dzikir. Karena Allah hanya akan menerima shalat berdasarkan kehadiran hati.

Rasulullag Saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba itu melakukan shalat, baginya tidak ditulis enam atau sepuluh shalat, tetapi hamba itu hanyalah ditulis shalat sesuai perhatiannya.”

Haram riya’ dalam shalat, yaitu melakukan amal perbuatan itu karena manusia untuk mendapatkan sanjungannya. Riya’ adalah merupakan syirik kecil, dan riya’ itu diharamkan dalam shalat maupun yang lain, seperti puasa, sedekah, dan haji, berdasarkan hadis:

“Siapa shalat sedangkan dia riya’, maka benar-benar syirik, siapa berpuasa sedangkan dia riya’, maka dia benar-benar syirik, dan siapa bersedekah sedangkan dia riya’, maka benar-benar syirik.”

As Shafuri dalam Nuzhatul Majalis mengemukakan hadis Nabi Saw:

Hai sekalian manusia, takutlah kepada syirik ini, karena ia lebih samar daripada semut pudak. Ditanya, “Bagaimana kami dapat memeliharanya sedangkan ia lebih samar daripada semut pudak?”

Nabi bersabda, “Bacalah, Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu untuk  menyekutukan Engkau dengan sesuatu yang Engkau mengetahuinya, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak mengetahuinya.”

Dalam satu riwayat disebutkan agar doa tersebut dibaca 3 kali setiap hari.

Bukan termasuk riya’ memperindah berpakaian kalau tidak untuk mendapatkan sanjungan manusia tetapi karena Allah. demikian disebutkan dalam Ittihaful Murid oleh Syeikh Abdus Salam Al Liqani. Nabi Saw apabila akan keluar berkumpul dengan sahabatnya, beliau melihat cermin lalu mengatur sorban dan rambutnya. Aisyah lalu menanyakan kepada beliau tentang hal itu. Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang berhias untuk para sahabatnya apabila keluar untuk berkumpul mereka.” Adapun bermegah-megahan adalah tercela dan terlarang, adakalanya membanggakan harta, orang tuanya, ataupun ibadahnya.

Syeikh Abdus Salam Al Liqani mengatakan, riya’ itu ada dua macam, yaitu riya’ yang murni seperti melakukan perbuatan karena manusia, dan riya’ menyekutukan seperti melakukan perbuatan karena Allah dan karena manusia. Riya’ ini lebih ringan daripada yang pertama dan diharamkan secara ijma’.