Hak Asasi Manusia Dalam Islam

Persamaan Hak dalam menjalankan kewajiban bagi setiap muslim

Setiap orang sama haknya dalam menjalankan kewajiban, tidak ada bedanya antara pemimpin dengan rakyat, orang kaya dengan orang miskin.

Diriwayatkan bahwa Harun AR Rasyid hendak mengerjakan thawaf sendirian. Beliau melarang orang lain berthawaf. Tiba-tiba Harun telah didahului oleh seorang Arab Badui. Maka pengawal Harun Ar Rasyid membentak Arab Badui tersebut seraya berkata, “Kamu jangan thawaf, sehingga Amirul Mukminin selesai thawaf.”

Orang Badui tersebut menjawab, “Bahwasanya Allah mempersamakan hak antara pemimpin dan rakyat dalam hal ini. Allah telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

Setelah Harun Ar Rasyid mendengarnya, beliau lalu melarang pengawalnya mencegah Arab Badui itu. Lalu Harun Ar Rasyid datang di Hajar Aswad untuk menciumnya, namun didahului Arab Badui. Kemudian Harun datang ke Hijir Ismail untuk melakukan shalat disitu, tapi juga didahului Arab Badui. Maka Harun Ar Rasyid tetap shalat disitu, seusai shalat beliau menyuruh pengawalnya untuk mendatangi Arab Badui, kemudian timbul percakapan diantara mereka.

Pengawal berkata, “Laksanakanlah permintaan Amirul Mukminin!”

Arab Badui itu menjawab, “Aku tidak ada kepentingan padanya. Jika Amirul Mukminin memerlukan aku, maka dialah yang berhak datang.”

Kemudian datanglah Harun Ar Rasyid seraya mengucapkan salam, dan Arab Badui menjawabnya. Lalu terjadi percakapan:

Harun berkata, “Hai saudara Arab, aku duduk disini memenuhi permintaanmu.”

Arab Badui: “Baitullah ini bukan rumahku, tanah haram ini bukan tanah haramku, disini kedudukan diantara kita sama. Jika kamu ingin duudk, maka duduklah! Jika ingin pergi, maka pergilah!.

Lalu Harun Ar Rasyid duduk dan berkata, “Hai A’rabiy, aku mau bertanya kepadamu tentang satu fardhu. Jika kamu dapat menjawabnya maka kamu akan mampu menjawab fardhu yang lain. tetapi jika kamu tidak dapat menjawabnya, maka pertanyaan tentang fardhu yang lain kamu tentu tidak mampu dan lebih lemah.

Arab Badui menjawab, “Pertanyaanmu ini aa pertanyaan belajar atau pertanyaan penghinaan?”

Harun: “Pertanyaanku adalah untuk belajar.”

Arab Badui: “Berdirilah, lalu duduklah sebagaimana duduk orang yang bertanya.”

Harun Ar Rasyid lalu berdiri dan duduk di hadapan Arab Badui.

Harun: “Aku telah duduk.”

Arab Badui: “Bertanyalah apa saja yang ada pada dirimu.”

Harun: “Beritahukanlah kepadaku apa saja yang telah difardhukan oleh Allah kepadamu!”

Arab Badui: “Yang engkau tanyakan kepadaku tentang fardhu yang mana? Dari satu kewajiban atau lima kewajiban, tujuh belas, tiga puluh empat, atau sembilan puluh empat, atau satu kewajiban sepanjang umurmu, atau satu fardhu dari empat puluh atau lima dari dua ratus fardhu?”

Harun Ar Rasyud tertawa sambil menepuk bahu Arab Badui karena meremehkannya seraya berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang kewajibanmu, tetapi kamu menjawab dengan hitungan tahun.”

Arab Badui berkata, “Hai Harun, jika agama itu tidak mempergunakan hitungan, niscaya Allah tidak akan mengadakan perhitungan amal perbuatan manusia pada hari kiamat. Padahal Allah telah berfirman:

“Kami akan mamasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.” (Al Anbiya ayat 47)

Maka Harun Ar Rasyid menjadi marah, sebab Aranb Badui itu memanggilnya dengan ucapan “Hai Harun” dan tidak mau memanggil dengan ucapan “Hai Amirul Mukminin.” Lalu Harun berkata, “Hai Arab Badui, jika kamu dapat menafsiri perkataanmu dengan baik maka kamu akan selamat, dan jika tidak dapat maka aku akan memerintahkan pengawalku untuk memukul batang lehermu antara bukit Shafa dan Marwah.”

Maka berkatalah pengawalnya, “Hai Amirul Mukminin, ampunila dia dan kasihanilah kaerna takut kepada Allah, dan karena di tempat yang mulia ini.”

Maka tertawalah Arab Badui itu karena ucapan keduanya, sehingga dia menepuk punggung Harun.

Harun berkata, “Mengapa kamu tertawa hai Arab Badui?”

Arab Badui itu menjawabnya dengan penuh keheranan seraya mengatakan, “Karena aku tidak tahu siapa yang lebih bodoh diantara engkau berdua, yang memberi batas waktu telah datang atau mempercepat batas waktu yang belum datang. Adapun pertanyaanmu tentang kewajiban yang telah difardhukan kepadaku. Padahal Allah telah mewajibkan kefardhuan yang banyak sekali. Ucapanku kepadamu tentang satu fardhu maksudnya adalah agama islam. Fardhu yang lima maksudnya adalah shalat lima waktu. Fardhu yang tujuh belas maksudnya adalah 17 rakaat. Tiga puluh empat maksudnya adalah 34 kali sujud dalam shalat fardhu. Sembilan puluh empat maksudnya adalah takbir dalam shalat jika orang yang shalat itu adalah mengakui kewajiban-kewajiban takbir itu sebagai fardhu yang muakkad.

Takbir tersebut menurut Imam Ahmad adalah membaca “Sami ‘Allaahu liman hamidah” keitka berdiri dari ruku’ (i’tidal), membaca tasbih dalam ruku’ dan sujud, membaca “Rabbigh firlii warhamnii wajburnii”. Jika semua itu ditinggalkan dengan sengaja, maka batallah shalatnya. Tetapi jika karena lupa maka diganti dengan sujud sahwi. Namun jika tidak menganggap itu semua difardhukan, maka hanyalah lima yaitu takbiratul ihram. Sedangkan takbir yang lain adalah sunah.”

Arab Badui lalu meneruskan perkataannya, “Adapun maksud ucapan tentang satu fardhu sepanjang umurku adalah menunaikan ibadah haji. Kemudian satu fardhu dari dua belas, adalah bulan ramadhan, wajib puasa bulan ramadhan dari 12 bulan dalam satu tahun. Sedangkan satu fardhu dari 40 yaitu membayar zakat emas atau dinar dari setiap 40 dinar. Lalu maksud fardhu dari 200 adalah lima dirham dari harta 200 dirham.”

Arab Badui kemudian berkata lagi, “Aku telah menjawab pertanyaanmu, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, maka jawablah pertanyaanku.”

Harun berkata, “Baiklah.”

Arab Badui: “bagaimana pendapatmu bila seorang lelaki melihat wanita di waktu pagi haram hukumnya, tetapi di waktu dzuhur halal baginya? Lalu di waktu ashar wanita itu haram dilihat lelaki tadi dan datang waktu maghrib menjadi halal? Kemudian waktu isya’ haram dan ketika shubuh halal? Pada waktu dzuhur berikutnya haram lagi kemudian waktu ashar halal? Ketika waktu maghrib datang haram lagi, maka ketika isya’ tiba halalkah wanita tersebut bagi seorang lelaki itu?”

Harun: “Demi Allah, hai saudara Arab! Kamu telah melemparkan aku ke dalam lautan dimana tidak ada yang menyelamatkan aku kecuali engkau.”

Arab Badui: “Kamu sebagai khlaifah Allah, tidak pantas menjadi lemah karena pertanyaan ini. Bagaimana kamu menjadi lemah karena pertanyaanku” sedangkan aku seorang Arab pedalaman yang tidak punya kekuasaan.”

Harun: “Kapasitas ilmumu sangat luas, maka jelaskanlah pertanyaan itu.”

Arab Badui: “Akan saya jelaskan tetapi dengan syarat, kamu harus menambal kekurangan dan kasih sayang kepada orang yang membutuhkan. Kamu jangan mencela orang karena kefakirannya.”

Harun Ar Rasyid lalu berkata dengan senang hati dan penuh hormat. Maka Arab Badui memberi penjelasan, “Bahwasanya seorang lelaki itu waktu shubuh melihat seorang wanita amat (budak) milik orang lain, maka haramlah wanita itu dilihatnya. Lalu waktu dzuhur lelki itu membelinya maka halal wanita itu baginya. Ketika ashar wanita itu dimerdekakannya, maka haramlah wanita itu baginya. Ketika datang waktu maghrib wanita itu dinikahinya, maka halal lah wanita itu baginya. Kemudian waktu isya’ lelaki itu menceraikannya, maka haramlah wanita itu baginya. Ketika datang waktu fajar lelaki itu merujukinya, maka halal lah wanita itu baginya. Ketika datang waktu dzhuhur lelaki itu menjatuhkan sumpah zhihar terhadap wanita tadi, maka haramlah baginya. Dan pada waktu ashar lelaki itu membayar kifarat atas sumpahnya, maka wanita itu menjadi halal baginya. Lalu pada waktu maghrib lelaki itu keluar dari islam, maka haramlah dia terhadap wanita itu. Akhirnya ketika waktu isya’ datang lelaki itu bertaubat dan masuk islam kembali, maka wanita itu menjadi halal baginya.”

Maka bergembiralah Harun Ar Rasyid dan memerintahkan pengawalnya untuk mmeberikan hadiah sebesar 10.000 dirham. Setelah diberikan, Arab Badui itu tidak mau menerimanya.

Arab Badui berkata, “Aku tidak membutuhkan 10.000 dirham itu, sana kembalikan kepada pemiliknya.”

Pengawal berkata, “Maukan engkau diberi upah yang dapat mencukupimu sepanjang hidupmu.”

Arab Badui: “Apa yang akan kamu upahkan sudah ada padaku.”

Pengawal: “Jika engkau punya hutang, maka kami sanggup membayarnya.”

Arab Badui berkata, “Tidak.”

Maka sedikitpun Arab Badui itu tidak mau menerimanya. Kemudian Hrun Ar Rasyid menanyakannya kepada keluarganya dan negerinya. Lalu diberitahukan kepada Harun bahwa Badui itu adalah Musa Ridha bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Al Husain bin Ali bin Abu Thalib. Dia berhias ala Arab Badui karena sangat zuhud terhadap dunia dan wira’i. Harun Ar Rasyid lalu berdiri dan mencium antara kedua matanya, seraya membaca firman Allah kemudian kembali.

“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al An’am ayat 124)