Rasa Takut Kepada Allah

Dalam menjalani hidup di dunia ini, setiap orang harus merasa takut kepada Allah, dan harus memiliki perasaan bahwa Allah tahu setiap perbuatan dan gerak-gerik kita di dunia. Sehingga bila hal ini (perasaan takut kepada Allah) tertanam dalam jiwa, maka akan menjauhkan kita dari kemaksiatan.

Dibawah ini keterangan atau kisah yang menjelaskan mengenai penyesalan atau rasa takut dari Nabi Adam dan Nabi Nuh setelah melakukan dosa kepada Allah.

Imam Ghazali telah menerangkan bahwa Nabi Adam sebagai orang yang terpilih di sisi Allah, sekaligus sebagai nabi yang diciptakan langsung dengan tangan Allah. para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya, bahkan para malaikat yang memikulnya pergi ke surga. Tapi ketika Nabi Adam memakan makanan yang dilarang oleh Allah, maka tidak diizinkan lagi untuk tinggal di surga. Lalu ada suara yang memanggilnya, “Tidak layak duduk berdekatan dengan-Ku (Allah) orang yang bermaksiat kepada-Ku.” Lalu Allah memerintahkan kepada malaikat yang memikulnya agar menurunkannya dari langit ke langit yang lebih rendah, hingga sampai ke bumi.

Pada waktu itu, Nabi Adam juga telah bertaubat, tapi ternyata tidak diterima oleh Allah, sehingga menurut sebagian riwayat, bahwa Nabi Adam tersu menangis (lantaran kesalahan sekali) selama seratus tahun. Akhirnya Nabi Adam mengalami beberapa cobaan yang sangat berat. Sehingga anak cucunya juga turut menanggung resikonya untuk selamanya.

Sesungguhnya Nabi Nuh telah mengalami beberapa cobaan dalam dakwahnya. Tapi pada suatu malam ia berkata yang dianggap tidak layak di sisi Allah, lalu Allah berfirman, “Janganlah kamu meminta sesuatu kepada-Ku yang kamu tidak mengetahui duduk perkaranya. Sesungguhnya Aku memberi nasihat padamu agar tidak tergolong orang-orang yang bodoh.”

Sehingga dalam sebagian riwayat diterangkan lantaran teguran itu, Nabi Nuh tidak berani memandang ke langit. Ia selalu menundukkan kepalanya lantaran malu kepada Allah.

Al Hasan berkata, “Sesungguhnya Nabi Adam menangis ketika diturunkan ke bumi itu selama 300 tahun, sehingga lembah-lembah Sarandib terisi air matanya sehingga dapat mengalir.”

Wahab bin Al Warad berkata, “Sesungguhnya Nabi Nuh menangis selama 300 tahun, sehingga pipinya terdapat garis-garis dikarenakan banyak menangis.”