Kisah Pemuda Yang Menolak Berzina

Tiada kata akhir untuk bertaubat

Diceritakan oleh Al Hasan, bahwa dahulu kala ada seorang wanita pelacur dari kalangan Bani Israil yang sangat cantik, dan ia tidak mau digauli kecuali dengan membayar 100 dinar terlebih dahulu. Pada suatu hari ada seorang lelaki yang ahli ibadah, lalu tertarik melihat kemolekan tubuh perempuan itu, maka ia bekerja keras untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Kemudian ia datang kepada pelacur itu seraya berkata, “Sesungguhnya engkau membuatku kagum, hatiku tertarik padamu, dan kini aku sudah mendapatkan uang sebagaimana yang kamu inginkan.” Lalu pelacur itu berkata, “Masuklah sekarang ke kamarku.” Maka ia segera masuk. Ternyata di dalamnya ada sebuah ranjang yang terbuat dari emas, lalu pelacur itu duduk di atasnya, kemudian berkata, “Marilah kesini.”

Kemudian ahli ibadah itu telah berada di atas perempuan itu, mendadak ia ingat kepada Tuhan yang senantiasa mengawasi perbuatannya, dan bagaimana nanti jika ditanya tentang amal perbuatannya itu, lalu tubuhnya bergetar kemudian berkata kepada si pelacur, “Tinggalkan aku, aku akan keluar dan kamu masih tetap aku bayar 100 dinar.” Lalu pelacur itu berkata, “Apa yang terjadi pada dirimu, bukankan kamu telah berkata bahwa kamu telah tertarik padaku, setelah kamu berhasil menguasaiku mengapa sekarang kamu berubah pendirian?” maka ahli ibadah itu berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah, aku tahu bahwa Allah sangat geram kepadaku. Oleh sebab itu, engkau sekarang adalah orang yang paling aku benci.” Pelacur itu berkata, “Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka aku tidak akan kawin kecuali denganmu.” Orang yang ahli ibadah itu berkata, “Tinggalkan aku, aku akan keluar.” Tetapi pelacur itu masih tetap berkata, “Aku tidak akan mengizinkanmu keluar kecuali kamu berjanji akan kawin denganku.” Lalu ahli ibadah berkata, “Ya, baiklah.” Lalu ia menutupi wajahnya dengan pakaiannya, kemudian keluar pergi ke negerinya.

Maka pelacur itu menyesali perbuatannya, lalu berangkat menuju negeri orang yang ahli ibadah itu, dan ketika sampai disana ia menanyakan nama dan tempat kediamannya, lalu ditunjukkan. Ternyata pelacur itu dikenal sebagai keturunan bangsawan, lalu diberitahukan kepada ahli ibadah itu, “Sesungguhnya pangeran fulanah telah datang kepadamu.” Ketika melihat pelacur itu, lalu menarik nafas panjang, sehingga meninggal dunia di mukanya. Lalu perempuan itu berkata, “Untuk orang ini sudah tidak dapat kuharapkan lagi menjadi suamiku, apakah ia juga mempunyai saudara?” orang-orang berkata, “Ada saudaranya, tapi orang fakir.” Perempuan itu berkata, “Aku akan kawin dengannya, lantaran cintaku kepada saudaranya.” Lalu menikahlah mereka berdua dan dikaruniai oleh Allah tujuh anak yang menjadi nabi semua.