Pemimpin dan Pengikut

Ucapan seorang pengikut kepada panutannya bila ia melakukan hal yang sama

Orang yang menjadi pengikut bila melihat suatu hal dari syeikh atau dari lainnya yang menjadi panutan, lahiriah sesuatu itu bertentangan dengan hal yang bajik, ia disunatkan menanyakan hal tersebut dengan niat minta petunjuk. Jika orang yang diikutinya itu mengerjakan hal tersebut karena lupa, berarti ia mengingatkannya. Jika orang yang diikuti itu melakukan hal tersebut dengan sengaja, sedangkan ia benar, hendaknya ia memberikan penjelasan kepada si penanya.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Usamah ibnu Zaid yang menceritakan:

Rasulullah saw berangkat dari Arafah. Ketika sampai di Syi’b (lereng bukit), beliau turun untuk buang air kecil, setelah itu beliau berwudu. Maka aku berkata, “Salat, wahai Rasulullah!” beliau menjawab, “Salat di depanmu.”

Sesungguhnya Usamah mengatakan demikian karena ia mempunyai dugaan bahwa Nabi Muhammad lupa salat maghrib yang telah masuk waktunya, bahkan hampir habis.

Diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengenai perkataan Sa’d ibnu Abu Waqqash:

Wahai Rasulullah, mengapa engkau meninggalkan si Fulan. Demi Allah, sesungguhnya aku memandangnya benar-benar beriman.

Didalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadis melalui Buraidah yang menceritakan:

Nabi Muhammad saw melakukan beberapa kali salat pada hari penaklukan kota Mekah hanya dengan sekali wudu. Maka Umar bertanya, “Sesungguhnya engkau pada hari ini telah melakukan suatu perbuatan yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka beliau menjawab, “Aku sengaja melakukannya, hai Umar.”