Orang Yang Tidak Boleh Diberi Salam dan Dijawab Salamnya

Seorang ahli bid’ah dan orang yang melakukan dosa besar, sedangkan ia belum bertobat, maka dianjurkan agar mereka tidak usah diberi salam, dan tidak usah menjawab salam mereka. Demikian pendapat Imam Bukhari dan ulama lainnya.

Imam Abdullah Al Bukhari di dalam kitab Shahihnya menyimpulkan dalil tentang masalah ini dengan hadis yang diriwayatkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengenai kisah Ka’b ibnu Malik r.a. ketika ia tidak ikut berperang ke medan Tabuk bersama dua orang temannya. Ka’b menceritakan:

Rasulullah saw telah melarang berbicara dengan kami. Ka’b melanjutkan kisahnya, “Aku datang kepada Rasulullah saw, lalu mengucapkan salam kepadanya. Aku katakan (kepada diriku sendiri), ‘Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya menjawab salamku atau tidak?’ hingga akhir hadis…

Imam Bukhari pernah menceritakan bahwa Abdullah ibnu Amr pernah mengatakan, “Janganlah kalian mengucapkan salam kepada orang-orang yang gemar minum khamr.”

Seandainya seseorang terpaksa harus mengucapkan salam kepada orang yang zalim, misalnya ia memasuki (lingkungan) mereka dan merasa khawatir akan menyebabkan dia rusak dalam agama atau dunianya atau lain sebagainya jika tidak mengucapkan salam, maka ia boleh bersalam kepada mereka.

Imam Abu Bakar ibnul Arabi mengatakan, “Menurut ulama, orang yang bersangkutan boleh mengucapkan salam, tetapi dengan niat bahwa salam merupakan salah satu dari asma Allah swt. makna yang dimaksudnya ialah Allah selalu mengawasi kalian.”