Menjaga lisan agar selalu berbicara baik

Setiap orang haruslah menjaga lisannya, karena bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lisan sangat luar biasa. Banyak sekali dalil dari Al Qur’an dan hadis yang menerangkan tentang keharusan menjaga lisan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Turmudzi dan Ibnu Majah melalui Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda:

Termasuk kebaikan islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.

Quss ibnu Sa’idah dan Aktsma ibnu Shaifi bertemu, lalu salah seorang berkata kepada lainnya, “Ada berapa keaibankah yang engkau jumpai pada diri anak Adam (manusia)?” temannya menjawab, “Lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Yang dapat aku hitung ada delapan ribu aib, dan aku menjumpai suatu pekerti bila diamalkan dapat menutup semua aib tersebut.” ia bertanya, “Apakah itu?” temannya menjawab, “Memelihara lisan.”

Diriwayatkan melalui Abu Ali, yaitu Al Fudhail ibnu Iyadh, yang mengatakan:

Barang siapa yang menghitung-hitung antara ucapan dan amal perbuatannya, niscaya sedikit bicara terhadap hal yang tidak penting baginya.

Imam Syafii pernah berkata kepada temannya Ar Rubayyi:

Hai Rubayyi’, janganlah engkau membicarakan hal yang tidak penting bagimu. Karena sesungguhnya bila engkau mengucapkan suatu kalimat, ia akan menguasaimu, sedangkan kamu tidak dapat menguasainya.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan:

Tiada sesuatu pun yang lebih layak ditahan dalam waktu yang lama selain dari lisan.

Sedangkan sahabat lain mengatakan:

Perumpamaan lisan sama dengan hewan buas. Jika engkau tidak mengikatnya, niscaya ia akan menyerangmu.

Diriwayatkan dari Ustadz Abul Qasim Al Qusyairi di dalam kitab Ar Risalah yang terkenal. Ia mengatakan, “Diam membawa keselamatan, sikap ini adalah pokok; dan diam pada waktunya merupakan ciri khas lelaki, sebagaimana brbicara pada tempatnya merupakan pekerti yang paling mulia.” Ia mengatakan pula, “Aku pernah mendengar Abu Ali Ad Daqqaq mengatakan, ‘barang siapa diam, tidak mau membela perkara yang hak, maka dia adalah setan yang bisu’.”

Ia mengatakan pula bahwa ahli zuhud lebih memilih sikap diam, karena mereka mengetahui malapetaka yang terkandung di dalam berbicara, kemudian lisan akan mendorong hawa nafsu dan menampakkan sifat ingin mendapat pujian serta cenderung untuk membedakan di antara jenisnya melalui ucapan yang indah dan lain-lainnya yang merupakan petaka bagi mereka. Demikian ciri khas ahli riyadhah, hal ini merupakan salah satu rukun mereka dalam mengalahkan haw anafsu dan membersihkan akhlak.

Ada syair yang mengatakan:

Jagalah lisanmu, hai manusia, jangan sekali-kali mematukmu, sesungguhnya lisan itu adalah ular berbisa. Sudah berapa banyak di dalam kuburan orang yang terbunuh oleh lisannya, padahal dahulu ditakuti oleh para pemberani.

Ar Rayyasyi mengatakan dalam syairnya:

demi usiamu, sesungguhnya di dalam diriku terdapat dosa yang menyibukkan hatiku dari dosa-dosa Bani Umayyah, hanya pada Rabbku-lah hisab mereka. Hanya Dia-lah yang mengetahui suaminya, sedangkan aku tidak. dan aku tidak mempedulikan apa yang mereka lakukan, apabila Allah memperbaiki apa yang ada di dalam diriku.