Kisah tentang pemakan riba

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Rasulullah saw melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkan padanya, penulis, dan dua saksinya. Dan beliau bersabda, “Kedudukan mereka adalah sama.”

Imam Ahmad juga pernah meriwayatkan dari Ka’bul Akbar berkata, “Aku berzina 30 kali lebih senang bagiku daripada aku memakan riba, sekalipun seharga satu dirham.”

Ibnu Abbas juga telah berkata, “Shadaqah, shalat, jihad, menghubungkan tali silaturrahmi dari seseorang yang memakan riba tidak akan diterima di sisi Allah.”

Perkataannya juga, “Barang siapa yang bekerja dengan riba, maka diminta agar bertaubat. Jika mau bertaubat maka alangkah baiknya. Jika tidak mau bertaubat, maka bagiannya adalah leher yang terpenggal.”

Ketika masih kecil Ibnu Hajar sering pergi ke makam ayahnya untuk membaca AL Qur’an. Dan pada suatu hari di bulan ramadhan ia keluar setelah shalat subuh yang masih gelap gulita. Lalu ia berkata, “Barang kali waktu itu ada sepuluh hari yang terakhir, bahkan aku ingat pada malam lailatul qadar. Ketika ia duduk di depan makam ayahnya dan membaca beberapa ayat Al Qur’an, tiba-tiba ia mendengar suara rintihan yang menyayat hati. Suara itu,…… kurasa waktu itu tidak ada seorang pun menemaniku, namun suara itu betul-betul menggusarkan hatiku. Rupanya suara itu keluar dari makam yang diperindah dengan bangunan di atasnya, di kapur putih. Lalu ia menghentikan bacaannya dan berupaya untuk mendengarkan suara siksaan itu dari dalam kuburan. Orang yang berada di dalam kuburan meratap, mengaduh dengan suara keras. Orang yang mendengar akan kacau pikirannya dan risau hatinya, bahkan di suatu saat suara itu menggusarkan.

Ibnu Hajar tak henti-hentinya mendengarkan suara rintihan yang mengiris hati itu. Ketika suasana mulai terang, ia merasa suara itu telah menghilang, lalu ada orang lewat telah menghilang, lalu ada orang lewat di depannya, Ibnu Hajar berkata, “Ini kuburan Fulan, seorang lelaki yang dikenal Ibnu Hajar, padahal lelaki itu terkenal ahli pergi ke masjid, sering salat berjamaah, jarang sekali berbicara hal-hal yang tidak berguna. Perbuatan baik seperti ini, sudah tak ayal lagi bagi Ibnu Hajar ia tahu sendiri, melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh peristiwa ini membuat Ibnu Hajar tercengang karenanya, karena apa yang tampak dari perilaku orang itu memang baik.”

Akhirnya Ibnu Hajar tidak tinggal diam, dia bertanya kepada teman akrab lelaki itu, untuk mengetahui bagaimana tingkah lakunya yang sebenarnya. Lalu mereka tak segan-segan memberitahukan bahwa lelaki itu suka memakan riba. Karena sebelumnya ia adalah seorang pedagang, kemudian usia keburu lanjut, barang dagangannya pun masih menumpuk, begitu juga dengan uang simpanannya, sudah tidak cukup untuk bekal di usia tua. Tapi rupanya ia mempunyai hati yang jahat, tidak mau memberi makan kepada orang-orang yang fakir yang ada di sekitarnya sehingga ajal merenggutnya. Bahkan setan pun rupanya mempermainkan orang tua itu, sehingga tak segan melakukan riba, pikirnya agar uangnya tidak berkurang. Akhirnya perbuatan itulah yang menjadikannya tersiksa sehingga pada bulan ramadhan, malah hingga lailatul qadar.

Oleh sebab itu, wahai hamba-hamba Allah, tinggalkanlah perbuatan riba, dimana Nabi Muhammad saw telah bersabda bahwa pemakan riba laksana berzina dengan ibunya sendiri, atau berzina 36 kali dan tidak akan diampuni dosanya.