Hukum Memutuskan Tali Silaturahim

Allah swt telah menegaskan di dalam surat An Nisa ayat 1, “….. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta dan peliharalah tali silaturahim.”

Dan dalam surat Ar Ra’d ayat 25, “Dan orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (neraka jahanam).”

Rasulullah saw telah bersabda sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah:

Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi telah menciptakan makhluk, sehingga hatiku selesai menciptakan mereka, maka kerabat berdiri, lalu Allah berfirman, “Tinggalkanlah tempat ini.” Lalu kerabat berkata, “Ini tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan hubungan.”

Allah berfirman lagi, “Ya, apakah kamu tidak rela jika Aku menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan memutus hubungan dengan orang yang memutus hubungan denganmu?” Jawab kerabat, “Ya.”

Allah berfirman lagi, “Yang sedemikian itu hanya untukmu.”

Kemudian Nabi saw bersabda, “Bacalah jika kamu mau ayat yang artinya sebagai berikut:

‘Adakah kiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di atas bumi dan memutuskan tali silaturahim, mereka orang-orang yang dilaknat oleh Allah, lalu dipekakkan dan dibutakan mata penglihatannya.”

Riwayat keduanya pula dari Jubair bin Muth’im r.a. berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahim.

Sementara Imam Thabrani meriwayatkannya dari Jubair r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda sebagai berikut:

Pada suatu hari Rasulullah saw keluar untuk menemui kami yang sedang berkumpul, lalu bersabda, “Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah dan sambunglah sanak kerabatmu.

Sesungguhnya tidak ada pahala yang lebih cepat diberikan selain daripada menyambung silaturahim. Berhati-hatilah jangan sampai kamu durhaka kepada orang tua, karena sesungguhnya bau surga itu dapat dicium dari jarak perjalanan seribu tahun.

Demi Allah, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pemutus hubungan silaturahim, orang tua yang berzina, orang yang menyeret kain sarungnya lantaran menyombongkan diri tidak akan mencium bau surga, karena sesungguhnya kebesaran hanya milik Allah, Tuhan seru sekalian alam.