Hikmah Menyantuni Anak Yatim dan Keistimewaan Anak Yatim

Seorang ulama salaf terdahulu berkata, “Pada mulanya aku dahulu adalah orang yang sombong lagi ahli maksiat, tiba-tiba pada suatu hari aku melihat anak yatim, maka aku merasa kasih sayang padanya sehingga aku perlakukan anak yatim itu bagaikan anakku sendiri, bahkan lebih.

Kemudian aku tidur, dalam tidurku aku bermimpi malaikat Zabaniyah menangkapku dan membawaku dengan keras ke dalam neraka jahanam, tiba-tiba di tengah jalan dihalang-halangi oleh anak yatim itu dan berkata kepada malaikat, “Lepaskan ia sampai aku minta kepada Tuhanku,” tetapi malaikat Zabaniyah menolak permintaan anak yatim itu.

Lalu ada seruan, “Lepaskan orang itu, karena Kami telah memaafkannya, karena kasih sayang terhadap anak yatim itu.”

Maka akupun tersentak bangun dari tidurku, dan berniat akan lebih baik lagi terhadap anak yatim.

Imam Thabrani meriwayatkan:

Demi Dzat yang telah mengutusku dengan haq, pada hari kiamat nanti Allah tidak akan menyiksa orang yang belas kasih kepada anak yatim, berkata lemah lembut padanya, belas kasih atas keyatimannya dan kelemahannya, dan tidak menyombongi tetangganya dengan karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Ibnu Majah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

Barang siapa yang mencukupi nafkah tiga anak yatim maka pahalanya bagaikan orang yang mengerjakan shalat sepanjang malam, berpuasa di waktu siang, berangkat pagi dan sore dengan menghunus pedangnya di jalan Allah (jihad fisabilillah), dan aku (Muhammad) dengan dia berada di surga bersaudara, sebagaimana dua jari ini juga bersaudara, lalu beliau merapatkan dua jari tersebut, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.