Keutamaan tawadhu

Abu Yazid pernah ditanya oleh seseorang, “Kapankah seseorang dapat diaktakan tawadhu?” Jawabnya, “Jika ia tidak mempunyai anggapan bahwa dirinya itu mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, dan tidak merasa bahwa ada orang lain yang lebih rendah selain daripadanya.”

Ibrahim bin Syiban telah berkata, “Kemuliaan itu didalam tawadhu.” Pangkal sesuatu itu di dalam taqwa dan kemerdekaan serta ketenangan itu adalah merasa puas terhadap segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt.

Akibat bersikap sombong

Diceritakan dari sebagian ulama, “Aku pernah meliha seorang lelaki di bukit Shofa sedang mengendarai keledai dengan diiringi oleh para pembantunya. Dia berbuat kekejaman kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pada kesempatan yang lain aku melihatnya lagi di Baghdad. Ia tidak mengenakan sandal, rambutnya terurai panjang, lalu aku bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menjadi begini?” Jawabnya, “Aku menyombongkan diri di tempat dimana orang-orang sama tawadhu pada Allah, maka sekarang Allah merendahkan diriku di tempat orang-orang sama berlagak sombong.”

Ya Allah, berikanlah kepada kami sikap tawadhu’ dan angkatlah derajat kami ke tempat yang lebih tinggi, amiin.