Keutamaan bersabar dan pemaaf

Diceritakan oleh Al Yafi’i, “Sesungguhnya guru Abu Utsman Al Hiri pernah berjalan di suatu gang pada tengah hari yang sangat terik, tiba-tiba ada orang yang menuangkan abu dari atas rumahnya dan mengenai tepat di atas kepala Abu Utsman. Maka para pengikutnya sama marah dan wajah mereka pun berubah menjadi merah, mereka mengumpat orang yang membuang abu itu, taoi Abu Utsman berkata kepada mereka, “Jangan kamu mengumpat sedemikian karena seseorang yang layak dituangi api neraka, lalumendapat keringanan hanya dituangi abu, maka tidak boleh marah, bahkan ia harus bersyukur atas keringanan itu.”

Kerugian setan terhadap sang pemaaf

Diceritakan pula olehnya, bahwa ada seorang shalih mempunyai seekor kambing. Pada suatu hari dilihatnya kambingnya itu berkaki tiga, kemudian ia bertanya, “Siapakah yang berbuat sedemikian?” pembantunya menjawab, “Aku” lalu ia bertanya lagi, “Mengapa kamu berbuat demikian?” jawabnya, “Agar aku dapat menyusahkanmu.” Maka orang shalih itu berkata, “Kamu tidak akan dapat menyusahkanmu, tetapi aku akan mengecewakan setan yang telah memerintahkan berbuat demikian. Sudah, sekarang pergilah, aku telah memerdekakanmu.”

Kemuliaan orang yang suka memaafkan

Ahnaf bin Qais pernah ditanya, “Dari siapakah kamu belajar budi pekerti yang mulia itu?” jawabnya, “Dari Qais bin Ashim.” Lalu ditanya lagi, “Bagaimana akhlak Qais  yang sampai mengagumkan kamu itu?” ia pun menjawab, “Pada suatu hari ketika ia sedang duduk-duduk di tengah rumahnya, lalu datang pembantunya dengan membawa panggangan daging, tiba-tiba panggangan itu jatuh di atas anaknya, dan anaknya itu pun mati seketika. Maka pembantunya itu tercengang dengan perasaan ketakutan. Lalu Qais berkata ‘Janganlah kamu takut, sekarang pergilah kamu sudah aku merdekakan karena Allah’.”