Keutamaan amar ma’ruf nahi munkar

Riwayat Al Ashbihani sebagai berikut:

Kalimat Laa ilaaha illallaah itu akan selalu berguna bagi orang yang membacanya dan dapat menolak siksaan dan kemurkaan Allah, selama mereka tidak meremehkan terhadap hak kalimat tersebut. para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan meremehkan haknya?’. Beliau menjawab, ‘Jika terjadi kemaksiatan kepada Allah secara terang-terangan, lalu tidak diingkari dan tidak dihentikan.’

Dan riwayatnya pula yang artinya sebagai berikut:

Wahai manusia, perintahkanlah kebajikan dan cegahlah kemunkaran, sebelum kamu memanjatkan doa kepada Allah, lalu Allah tidak mengabulkan permohonanmu. Dan sebelum kamu minta ampun, lalu kamu tidak diberi pengampunan. Sesungguhnya perintah kebajikan dan melarang kemunkaran tidak menolak rizki, tidak mendekatkan ajal. Pendeta-pendeta Yahudi dan Rahib Nasrani ketika meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka dikutuk oleh Allah melalui lidah para nabinya. Kemudian mereka diliputi oleh bencana.

Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi juga telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya sebagai berikut:

“Jihad yang paling utama itu adalah menyampaikan kalimat benar di hadapan pemerintah yang menyimpang.”

Abu Razin telah meriwayatkan, “sesungguhnya seorang lelaki akan berpegangan kepada lelaki yang lain nanti pada hari kiamat, padahal ia tidak mengenalnya. Lalu lelaki yang dipegang itu berkata, ‘Mengapa kamu pergi padaku, sedang antara aku dan kamu belum pernah mengenal?’. Lelaki itu berkata, ‘Kamu melihat aku berbuat kesalahan dan kemunkaran, namun kamu tidak melarangku.’

Dalam sebuah riwayat telah diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat nanti, lalu dilemparkan ke dalam api neraka, lalu usus-ususnya pada keluar. Dan ia berputar-putar mengelilingi neraka sebagaimana keledai berputar pada penggilingan. Penduduk neraka berkumpul kepadanya. Mereka betkata, “Wahai Fulan, apa yang menimpamu? Bukankah kamu telah memerintah kami untuk berbuat baik dan melarang berbuat kemunkaran?”. Jawabnya, “Sungguh aku telah memerintah kepadamu kepada kebajikan, tapi aku sendiri tidak pernah mengerjakannya. Dan aku juga telah melarangmu berbuat kemunkaran, tapi aku sendiri malah melanggarnya.”

Sementara Imam Baihaqi meriwayatkan sebagai berikut:

Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung pernah memberi wahyu kepada malaikat Jibril, “Hendaknya kamu membalikkan kota ini dan itu dengan segenap penduduknya.” Lalu malaikat Jibril berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya di kalangan mereka ada hamba-Mu yang tidak pernah berbuat maksiat sekalipun hanya sekejap mata.” Maka Allah berfirman, “Balikkan kota itu dengan dia dan mereka itu atasnya, karena wajahnya tidak pernah memerah lantaran marah terhadap kemunkaran yang telah terjadi meskipun hanya sesaat.”