Sikap dan Ucapan ketika ada orang yang meninggal atau etika bertakziah

Diriwayatkan di dalam kitab Imam Nasai dengan sanad hasan melalui Mu’awiyah ibnu Qurrah ibnu Iyas, dari ayahnya yang menceritakan:

Nabi saw kehilangan (tidka melihat) salah seorang sahabatnya, lalu beliau menanyakan tentangnya. Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, anak kecilnya (kesayangannya) yang pernah engkau lihat telah meninggal dunia.” Nabi saw menemuinya dan menanyakan kepadanya tentang anak kecilnya itu, lalu ia menceritakan kepada Nabi saw bahwa anak kecilnya telah meninggal dunia. Nabi saw bertakziah kepadanya, kemudian bersabda, “Hai Fulan, manakah yang paling engkau sukai: Engkau bersenang-senang dengannya sepanjang usiamu atau engkau kelak di hari kemudian tidak mendatangi salah satu pintu surga melainkan engkau jumpai dia telah mendahuluimu ke pintu surga dan membukakannya untukmu?” ia menjawab, “Wahai Nabi Allah, bahkan yang paling aku sukai ialah mendahuluiku ke surga untuk membukakan pintu buatku.” Nabi saw bersabda, “Yang demikian itu adalah untukmu.”

Imam Baihaqi di dalam kitab Manaqibusy Syafii meriwayatkan, Imam Syafii memperoleh berita bahwa Abdur Rahman ibnu Mahdi ditinggal mati seorang anak lelakinya. Abdur Rahman sangat kecewa atas kematian putranya itu. Imam Syafii mengirim surat kepadanya yang bunyinya sebagai berikut:

“Hai saudaraku, berbelasungkawalah kepada dirimu sendiri seperti engkau berbelasungkawa kepada orang lain. anggaplah buruk sebagian dari perbuatanmu bila engkau menganggap buruk sebagian perbuatanmu itu dari orang lain. perlu engkau ketahui, musibah yang paling pahit ialah kehilangan rasa gembira dan terhalang dari pahala, terlebih lagi jika keduanya dibarengi dengan memperoleh dosa. Karena itu, raihla keberuntunganmu, hai saudaraku, apabila ia mendekat kepadamu sebelum engkau mencarinya, sedangkan ia menjauh darimu. Semoga Allah memberikan ilham kesabaran kepadamu di kala musibah menimpa, dan semoga Dia memberikan pahala kepada kami dan kamu berkat sabar.”

Imam Syafii pernah menulis surat pula kepadanya yang isinya sebagi berikut:

Sesungguhnya aku berbelasungkawa kepadamu bukan karena aku percaya dapat kekal, melainkan merupakan sunat yang dianjurkan agama. tidaklah hidup kekal orang yang mendapat belasungkawa sesudah kematian orang yang dikasihinya, dan tidak pula orang yang bertakziah sekalipun masih dapat bertahan hidup selama beberapa waktu.