Kalimat yang diucapkan ketika berbelasungkawa atau bertakziah

Juwairiyah ibnu Asma menceritakan dari pamannya, bahwa ada tiga orang bersaudara ikut dalam perang Tustur, akhirnya mereka semua mati syahid. Pada suatu hari ibu mereka pergi ke pasar untuk suatu keperluan, lalu ia bersua dengan seorang lelaki kota Tustur. Ia bertanya kepada lelaki itu tentang keadaan anak-anaknya, maka lelaki itu melaporkan bahwa mereka telah mati syahid. Ia bertanya, “Apakah mereka gugur dalam keadaan maju atau dalam keadaan mundur (lari dari medan perang)?” lelaki itu menjawab, “Segala puji bagi Allah, mereka memperoleh keberuntungan dna mengorbankan dirinya demi membela sanak familinya. Diriku, ayah, dan ibuku bersedia menjadi tebusan mereka.”

Adz-dzimar artinya sanak keluarga seseorang dan lain-lainnya yang berhak ia bela dan ia pertahankan.

Haathuu, memelihara dan menjaga serta mempertahankan.

Salah seorang anak lelaki Imam Syafii meninggal dunia, maka ia berkata:

Tiada lain masa itu memang demikian, maka bersabarlah terhadapnya, yaitu ludesnya harta benda atau ditinggal oleh orang yang dikasihi.

Abul Hasan Al Madini pernah mengatakan bahwa Al Hasan, ayah Ubaidillah ibnul Hasan, meninggal dunia. Pada saat itu Ubaidillah ibnul Hasan menjabat kadi kota Bashrah, juga sebagai amirnya. Orang banyak berdatangan mengucapkan belasungkawa kepadanya. Akhirnya mereka mengenal watak Ubaidillah tentang putus asa dan kesabarannya, dan mereka sepakat bila Ubaidillah meninggalkan sesuatu hal yang sedang ia kerjakan, berarti ia putus asa.