Hukum jihad

Hukum jihad itu fardu kifayah setiap tahun, sekalipu dilakukan hanya sekali, jika orang-orang kafir (musuh) berada di negerinya. Hukum jihad menjadi fardu ‘ain manakala musuh memasuki negeri kita, seperti yang akan dirinci kemudian.

Ketentuan hukum fardu kifayah ialah apabila jihad telah dilakukan oleh orang yang mencukupi persyaratannya, maka gugurlah dosa darinya dan juga dari orang-orang lain yang tidak ikut jihad.

Berdosalah setiap orang dari kalangan kaum muslim yang tidak dalam keadaan uzur bila meninggalkan jihad, sekalipun mereka tidak mengerti akan kefarduan jihad.

Macam-macam jihad yang hukumnya fardu kifayah

Fardu kifayah banyak macamnya, antara lain menegakkan hujah-hujah agama. yang dimaksud dengan hujah agama ialah argumentasi-argumentasi yang mengukuhkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, sifat-sifat wajib serta sifat-sifat mustahil bagi-Nya, dan argumentasi-argumentasi yang mengukuhkan adanya kenabian, hal-hal yang disebut oleh syara’, seperti hari akhirat, hisab, dan lain-lainnya.

Demikian pula mempelajari ilmu-ilmu syariat, seperti ilmu tafsir, hadis, dan fiqih, dengan pengertian melebihi dari apa yang sudah menjadi keharusan. Juga mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syariat, sekiranya diperlukan untuk peradilan dan fatwa.

Fardu kifayah lainnya ialah menanggulangi bahaya yang akan menimpa orang yang terlindungi darahnya, seperti orang muslim, kafir dzimmi, dan kafir musta’man yang sedang kelaparan, yang keadaannya masih di bawah keadaan darurat, atau yang dalam keadaan telanjang atau hal-hal lainnya.

Orang yang dibebani kewajiban fardu kifayah ini adalah semua orang kaya yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan pokok selama setahun buat dia sendiri dan buat orang-orang yang dinafkahinya, yaitu di saat terjadi kekosongan pada baitul mal dan dana hasil zakat tidak mencukupi.

Fardu kifayah lainnya ialah amar ma’ruf (memerintahkan kepada kebajikan). Yang dimaksud dengan perkara yang makruf ialah hal-hal yang diwajibkan oleh syariat, dan juga mencegah hal-hal yang diharamkannya. Dengan demikian, pengertian amar ma’ruf ini mencakup nahi munkar, yakni mencegah perkara yang diharamkan.

Akan tetapi, yang menjadi subjek ialah menyangkut perkara wajib atau diharamkan menurut kesepakatan seluruh ulama, atau menurut keyakinan pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar itu sendiri.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani