Inilah Lafadz atau Ucapan Wakaf

Wakaf dinyatakan sah dengan mengucapkan lafaz, “Aku wakafkan, aku peruntukkan buat sabilillaah, aku tahankan sejumlah sekian buat keperluan anu” atau “tanahku kuwakafkan, atau wakaf diberlakukan atas barang ini.”

Seandainya seseorang mengatakan, “Aku sedekahkan sekian buat keperluan anu dengan sedekah yang dimuliakan atau selama-lamanya,” atau, “Aku sedekahkan ini dengan sedekah yang tidak boleh dijual atau tidak boleh dihibahkan atau tidak boleh diwariskan,” maka kalimat-kalimat tersebut merupakan wakaf yang sharih (jelas).

Termasuk wakaf yang jelas pula apabila seseorang mengucapkan, “Aku jadikan tempat ini sebagai mesjid.” Maka tempat tersebut menjadi masjid sekalipun orang yang bersangkutan tidak mengatakan, “Karena Allah” dan sekalipun dia tidak menyebutkan persyaratan, sebab masjid itu tiada lain hanyalah untuk wakaf.

Ucapan “Aku wakafkan untuk salat” merupakan ungkapa jelas dalam kaitannya dengan wakaf, tetapi kinayah dalam kaitannya dengan masjid. Untuk itu, pada selain tanah yang mati (tak digarap atau terbengkalai) diharuskan adanya niat wakaf.

Al-Qumuli mengutip dari Ar Rauyani dan diakuinya, bahwa seandainya seseorang merenovasi sebuah mesjid yang telah rusak tanpa mewakafkan peralatan yang digunakannya, maka peralatan tersebut merupakan pinjaman bagi masjid. Dengan kata lain, pemilik boleh mengambilnya kapan saja disukainya.

Demikianlah uraian dari kami tentang lafaz-lafaz wakaf, semoga bermanfaat bagi kita semua di dunia dan di akhirat, amin.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani