Inilah Pengertian Miqat Tempat Melaksanakan Miqat

Miqat ialah batas permulaan melaksanakan ibadah haji. Miqat itu ada dua macam, miqat makany dan miqat zamany.

  1. Miqat haji bagi orang yang bertempat tinggal di Mekah, ialah Mekah. Miqat haji atau umrah bagi jamaah yang datang dari Madinah, ialah Dzulhulaifah, yang dinamai Bir Ali; jamaah dari Syam, Mesir, Maghribi, di Juhanah (atau Rabigh dekat Juhafah); jamaah dari Yaman (dan termasuk dari Indonesia) di Yalamlam; jamaah dari Najd dan Hijaz di Qarnul Manazil, jamaah dari arah timur (seperti Irak dan lainnya) dari Dzatul Irqi (dekat ke Thaif).
  2. Adapun miqat umrah bagi orang yang berada di tanah Haram ialah dari tanah Halal (lewat batas tanah haram). Yang lebih afdhal adalah dari Ji’ranah, Tan’im, lalu Hudaibiyah (bila penduduk Mekah berada di rumahnya).

Yang paling afdhal adalah Ji’ranah, sebab merupakan miqat umrah Nabi saw; lalu Tan’im, sebab Nabi saw pernah menyuruh Siti Aisyah berumrah dari sana; lalu Hudaibiyah, sebab Nabi saw pernah akan berumrah dari sana hanya tidak jadi karena dicegah oleh kaum musyrik.

Adapun miqat orang yang tidak mempunyai miqat di jalannya (seperti orang Mesir dan sebagainya), maka miqatnya dari tempat yang bertepatan dengan miqat yang tersebut dalam hadis, bila bertepatan dengan miqat di lautan atau daratan; bila tidak bertepatan dengan itu, maka di tempat yang jaraknya dua pondokan dari Mekah (lebih kurang 76,80 km).

Bagi pendatang (jamaah) yang datang dari laut arah Yaman, maka ihramnya (miqatnya) dari Syibil Muharram bertepatan dengan Yalamlam. Ia tidak boleh mengakhirkan ihram sampai ke Jeddah. Berbeda dengan fatwa Syeikh Ibnu Hajar yang memperbolehkan menangguhkannya sampai ke Jeddah.

Alasan Ibnu Hajar, sebab perjalanan Jeddah ke Mekah itu seperti Yalamlam ke Mekah. Bila orang berihram kurang dari miqat, wajib menyembelih dam, sekalipun karena lupa atau tidak tahu, selama ia tidak kembali ke miqat sebelum melaksanakan ibadah hajinya, walaupun thawaf qudum; dan berdosa selain yang lupa atau tidak tahu.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani