Inilah Aturan atau Hukum Menghadap Kiblat Ketika Shalat

Menghadap kiblat merupakan salah satu syarat salat. Yaitu dengan menghadapkan dada ke arah Ka’bah (bagi yang dekat ke Ka’bah, harus dengan keyakinan penuh; bagi yang jauh, cukup dengan perkiraan saja).

Allah swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 144, “Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”.

Rasulullah saw bersabda, “Pernah salat dua rakaat menghadap ke arah kiblat, lalu berkata, ‘Inilah arah kiblat’,”

“arah kiblat antara Masyriq dan Maghrib,” hadis ini di mahmulkan kepada penduduk Madinah dan orang-orang yang dekat padanya.

Kecuali bagi orang yang sulit untuk menghadap ke arahnya (misalnya sakit atau dalam tawanan), dan pada salat syiddatul khauf, walaupun salat fardu. Orang yang salat syiddatul khauf boleh mengerjakan salat sebisanya, baik sambil berjalan, naik kendaraan, menghadap ke arah kiblat, ataupun mmebelakanginya. Begitu juga orang yang berusaha lari dari kebakaran, banjir, binatang buas, ular, kejaran orang yang mengutangkan, sedangkan dia belum mampu membayar, dan takut dipenjara (oleh musuh).

Tidak termasuk (harus menghadap kiblat) bagi salat sunat dalam perjalanan yang mubah bagi orang yang menuju tempat tertentu. Ia boleh salat sunat sambil naik kendaraan atau berjalan kaki, walaupun dalam perjalanan yang dekat. Betul demikian, tetapi disyaratkan tujuannya dalam perjalanan itu tidak terdengar azan dari kampungnya dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam salat jumat.

Sebagaimana riwayat ‘Amir bin Rabi’ah, “Saya melihat Rsulullah saw salat di atas kendaraannya. Ketika itu beliau menghadap ke arah tujuan kendaraannya.”

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani