Tata Cara Membaca Al Fatihah Dalam Shalat (bismillah dan tasydidnya)

Rukun salat salah satunya adalah membaca Fatihah setiap rakaat ketika berdiri, berdasarkan hadis, “Tidak sah salat bagi orang yang tidak membaca Fatihah”. Yakni setiap rakaat, kecuali masbuq (makmum yang tidak sempat menghabiskan bacaan Fatihah nya). Bagi masbuq tidak diwajibkan membaca Fatihah sekira tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk membacanya sejak imam berdiri, walaupun pada setiap rakaat, sebab imam mendahuluinya pada rakaat pertama.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Imam itu menanggung makmum”.

Makmum tertinggal dari imam karena berdesakan, lupa atau lambat gerakannya, sehingga setiap kali makmum berdiri dan sujud, imam sudah rukuk lagi. Maka imam yang suci menanggung Fatihah makmumnya (pada setiap rakaat), selain rakaat tambahan atau pada sebagian Fatihahnya.

Jika masbuq yang tidak sibuk dengan amalan sunat tertinggal menamatkan Fatihah, lalu ia tidak sempat menyusul imam kecuali sesudah i’tidal, maka rakaatnya menjadi percuma.

Membaca Fatihah itu disertai basmalah, sebab basmalah itu termasuk ayat Fatihah. Sebagaimana sabda Nabi saw, beliau membaca basmalah lalu membaca Fatihah. Beliau menghitung basmalah sebagai ayat dari Fatihah. Begitu pula semua surat selain surat Baraa-ah (Sabdanya, “Bila kamu membaca Fatihah, bacalah bismillah; sebab Fatihah itu induk Al Qur’an, dan basmalah termasuk ayatnya.”)

Demikian pula semua tasydid yang berjumlah 14, sebab huruf yang di tasydid itu berarti 2 huruf. Bila di takhfif, maka hilanglah satu huruf.

Harus menjaga semua huruf Fatihah, yaitu menurut qiraat “Maliki” tanpa alif, berarti seratus empat puluh satu huruf. Huruf Fatihah berikut tasydid ada 155 huruf.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani