Sebutkan Sunnah Ibadah Haji

Mandi atau tayamumlah (jika berhalangan mandi) untuk ihram dan masuk ke kota Mekah, walaupun tidak ihram di Dzi Thuwa.

Mandi untuk wuquf di Arafah pada sore harinya, untuk wukuf di Muzdalifah, dan untuk melempar jumrah pada hari Tasyriq. Sunat memakai wangi-wangian pada badan dan pakaian, walaupun dengan wangi-wangian yang berwujud, sebelum ihram dan sesudah mandi, tidak apa-apa (jika) wanginya itu terus berbau sampai sesudah ihram, juga tidak apa-apa sebab berpindahnya beserta keringat.

Sunat membaca talbiyah yaitu Labbaika Allaahumma labbaika laa syariika laka labbaika innal hamda wanni’mata laka walmulka laa syariika laka. Ya Allah! hamba datang untuk memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat,dan kerajaan kepunyaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.

Maksud Labbaika ialah, “hamba datang memenuhi dan taat kepada-Mu.” Disunatkan memperbanyak talbiyah, salawat kepada Nabi saw, memohon surga dan mohon perlindungan dari neraka sesudah membaca talbiyah tiga kali.

Tetap membaca talbiyah itu sampai melempar jumrah Aqabah, tetapi tidak disunatkan ketika thawaf qudum dan sa’i sesudahnya, sebab lebih warid zikir-zikir yang khusus pada keduanya (thawaf dan sa’i).

Sunat thawaf qudum, sebab menghormati Baitullah dan sesungguhnya disunatkan thawaf qudum itu bagi yang ihram haji dan haji qiran (tidak sunat bagi haji tamattu’) yang masuk ke kota Mekah sebelum wukuf.

Tidak lepas (kesunatan) sebab duduk (di masjidil haram) dan tidak lepas (kesunatan) sebab ditangguhkan. Akan tetapi, lepas (gugur) thawaf qudum itu sebab wukuf di Arafah.

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani