Keutamaan Bersiwak Sebelum Shalat dan Membaca Al Quran

Bersiwak (menggosok) seluruh gigi bagian luar dan dalam (dilakukan) berdasarkan hadis sahih berikut ini:

Seandainya aku tidak menyusahkan umatku, pasti aku akan mewajibkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan wudhu.

Bersiwak dapat menggunakan setiap benda yang kasar sekalipun, misalnya dengan sobekan kain atau sikat. Menggunakan kayu gaharu lebih baik daripada yang lainnya, terutama kayu yang berbau wangi. Tetapi yang lebih afdhal adalah menggunakan kayu arak (kayu untuk bersugi). Tidak sah dengan jari, walaupun kasar. Hal ini berbeda dengan pendapat Imam Nawawi, yang boleh menggunakan jari.

Bersiwak dilakukan setiap kali akan wudhu, shalat fardhu atau sunah walaupun bersalam pada setiap dua rakaat, dan ketika wudhu, meskipun antara wudhu dengan shalat itu tidak terpisah oleh sesuatu pemisah (yang agak lama) dan sekira tidak dikhawatirkan mulutnya terkena najis (sebab bersiwak itu). Maka bersiwak sangat diperlukan, termasuk bagi orang yang tidak bergigi (ompong).

Yang demikian itu, berdasarkan hadis al Humaidi dengan sanad yang baik, sesuai dengan sabda Nabi saw,”Dua rakaat dengan siwak lebih afdhal daripada 70 rakaat tanpa siwak.”

Jika terlupa pada awal shalat, susullah (bersiwak) pada tengah-tengahnya dengan pekerjaan yang sedikit (yaitu sekali atau dua kali, jangan tiga kali), seperti halnya bersorban.

Bersiwak pun hukumnya sunat muakkad, yaiu ketika akan membaca Al Quran, hadis dan ilmu syar’i. Demikian pula dikala mulut kurang sedap atau berubah rasa, misalnya karena tidur atau memakan makanan yang berbau, juga pada waktu gigi berubah, misalnya menguning, sesudah bangun atau hendak tidur, ketika akan masuk mesjid atau rumah, sesudah sahur dan ketika sekarat, dalilnya sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Shahihain (dari Siti Aisyah r.a bahwasanya ketika NAbi saw akan wafat, beliau bersiwak dahulu)

 

Sumber: Kitab Fat-hul Mu’in karangan Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari al Fannani