Inilah orang yang tertipu oleh dunia

Menurut Syeikh Yahya bin Mu’adz rahimahullah, bahwa setengahnya dari yang tertipu atau dengan kata lain berani kepada Allah adalah terus-terusan berbuat dosa serta berharap-harap terhadap pengampunan (mengharapkan dosanya di lebur), sambil tidak merasa nelangsa dan taubat dari dosanya.

Serta mengharapkan (menunggu-nunggu) martabat dari Allah, padahal tidak mau mengerjakan tha’at.

Menunggu-nunggu hasil tanaman surga dengan bibit neraka, atau menunggu kenikmatan surga tetapi melakukan berbagai kemaksiyatan.

Serta mencari tempat orang-orang tha’at dengan berbagai kemaksiyatan, atau mencari (berusaha) masuk ke surga bukan dari jalan surga, tetapi dengan mengingkari perintah Allah.

Allah swt berfirman: Pastinya kalian semua akan di balas terhadap perkara yang terbukti sudah dilakukan oleh kalian.

Serta menunggu pembalasan dengan perkara-perkara yang menyampaikan kepada kesenangan, dengan tidak melakukan amal shalih yang menyampaikan kepada kesenangan.

Mengharapkan keselamatan dari Allah ‘azza wa jalla, tetapi berlebihan dalam hidupnya.

Di dalam Bahar Basith diuraikan, Orang-orang sering mengharapkan keselamatan, tetapi tidak mau menjalani jalan keselamatan. Sebenar-benarnya perahu tidak akan mau berjalan di atas dataran yang kering.

Setiap orang hendaknya harus berjuang di dalam hidupnya untuk mendapatkan ridha dari Allah swt, selalu menjalankan perintah dari Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Kita harus mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal dan abadi di akhirat, serta jangan terperdaya oleh dunia yang hanya bersifat sementara.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar