Inilah Keutamaan Muslim, Orang Berilmu dan Zuhud

Rasulullah saw bersabda:

Tidak terbukti seorang ‘abdi di langit maupun di bumi jadi mu’min, sehingga dia terbukti menjadi ‘abdi yang menyayangi (menyayangi orang-orang). Dan tidak terbukti si ‘abdi orang yang menyayangi, hingga dia itu muslim (yang nurut). Dan tidak terbukti si ‘abdi muslim, hingga orang-orang selamat dari tangannya dan lisannya, maksudnya dia tidak berbuat buruk kepada orang lain dengan tangannya dan lisannya. Dan tidak terbukti si ‘abdi jadi muslim, hingga terbukti dia adalah orang ‘alim/berilmu. Dan tidak terbukti si ‘abdi jadi orang ‘alim, hingga terbukti dia mengamalkan ilmunya, sehingga terbukti dia adalah orang zuhud. Dan yang disebut zuhud adalah meninggalkan kesenangan dunia karena untuk kesenangan di akhirat. Dan tidak terbukti si’ abdi orang zuhud, hingga dia terbukti orang yang wara’ (apik). Dan yang disebut wara’ adalah tetap melakukan amal-amal kebaikan.

Menurut Syeikh Yahya bin Mu’adz ar Razi, bahwa bagaimana akan terbukti seseorang zuhud apabila dia tidak wara’. Maka harus wara’ dari perkara yang tidak ada perkara tersebut, kemudian zuhud dari perkara yang dimiliki.

Dan tidak terbukti orang itu wara’, hingga terbukti dia adalah orang yang tawadhu.

Menurut Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw sering menengok orang yang sakit, sering mengantarkan mayat ke pekuburan, dan sering menunggangi himar, dan menghadiri panggilan ‘abdi.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja orang yang terbukti bagus rupa dan dari turunan yang mulia, serta tawadhu’, maka terbukti dia adalah setengah dari yang bersih dari golongan ahlillaah (kekasih Allah) di hari kiamat.” HR Imam Abu Nu’aim

Tidak terbukti si ‘abdi orang yang tawadhu’ hingga dia mengetahui terhadap dirinya sendiri.

Kita jangan tertipu dengan kesehatan badan kita, karena umur itu akan diperhitungkan, artinya kita akan mati. Kita seperti tanaman yang hijau, yang tetap ada bahaya yang mengancam (hama). Apabila kita selamat darinya (bahaya), maka kita termasuk golongan yang sempurna.

Serta tidak terbukti si ‘abdi itu yang mengetahui (‘arif) terhadap dirinya, hingga terbukti dia adalah yang ‘aqil/yang mengerti dalam ngomongnya.

 

Sumber: Kitab Nashaihul ‘ibaad kar,angan Syeikh Muhammad Nawawi bin ‘umar